Konsolidasi Kasepuhan Banten Kidul

sabaki_konsolidasi kasepuhanbanten kidul di Cibadak“ Kami ieu mung Suku Sambu Badan Derma “ (Kami hanya menjalankan apa yang diperintahkan para Leluhur untuk berjuang dan melestarikan adat)

Demikian disampaikan Wikanta, Ketua Panitia Konsolidasi Kesatuan Adat Kasepuhan Banten Kidul (SABAKI) Wilayah Lebak Kidul, pada Sabtu (26/4) di Kasepuhan Cibadak Desa Warung Banten, Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten

Menurut Wikanta, pria yang sehari-hari bekerja di Lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak mengatakan rasa bangga dan terhormat menjadi tuan rumah untuk menggelar acara ini, sekaligus amanat yang harus dilaksanakan bagi masyarakat Kasepuhan Cibadak.

Ditambahkan Wikanta, kebanggan menjadi tuan rumah diwujudkan dengan kesadaran untuk terlibat secara aktif dalam kegitan serta bahu membahu mengalangan serta mengoptimalkan sumberdaya yang ada, baik Sumber Daya Manusia, maupun financial. Tujuan dari kegiatan Konsolidasi ini adalah untuk memperjelas serta mempertegas sikap bersama terkait dengan perjuangan pengakuan masyarakat adat kasepuhan.

Sekmat Cibeber memukul gong tanda dimulainya acara konsolidasi SabakiHal menarik dari kegiatan ini adalah kerjasama dan pembagian peran yang jelas antara generasi muda dan baris kolot (Pemangku adat). Peran generasi muda lebih pada kegiatan yang bersifat teknis seperti penyiapan konsumsi, akomodasi dan logistik sedangkan baris kolot mempunyai peran menjalin komunikasi dengan pihak luar untuk mengalang dukungan dari Masyarakat secara umum, kasepuhan diluar kampung Cibadak maupun Pemerintah desa serta Kecamatan.

Sekmat-Cibeber-memukul-gong-tanda-dimulainya-acara-konsolidasi-Sabaki--300x225Acara Konsolidasi Sabaki wilayah Lebak Kidul dibuka oleh Sekretaris Camat Cibeber, Aat Fathoni, S.Sos, serta Ketua Sabaki, Ugis Suganda dihadapan tamu undangan sebanyak 72 orang terdiri dari unsur Kepala desa, Kasepuhan, Kecamatan, dan Tokoh masyarakat. Sedangkan masyarakat umum yang hadir pada kegiatan ini mencapai 250 orang.

Menurut Sukanta M.Pd, Sekretaris Sabaki, mengatakan bahwa warga kasepuhan adalah masyarakat yang terbuka serta menghormati keberagaman sehingga semua pihak harus dapat bekerjasama.

“Kasepuhan mempunyai tiga pilar pemersatu yaitu Adat, Agama dan Negara yang dikenal dalam istilah “TILU SAPAMULU, DUA SAKARUPA NU HIJI ETA-ETA KENEH” ujar Sukanta.

Peserta Konsolidasi Sabaki wil. banten KidulSukanta, pria kelahiran wewengkon adat Citorek yang juga menjabat sebagai Camat di Kecamatan Malingping ini merasa terpanggil untuk terus memperjuangkan pengakuan dan jaminan ruang hidup masyarakat adat.

Menurutnya, peluang yang diharapkan saat ini adalah pengakuan hukum melaui Pemerintah Daerah dalam bentuk PERDA tentang Perlindungan Masyarakat Adat Kasepuhan adalah salah satu jalan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekaligus perlindungan atas Sumber Daya Alam.

Organisasi SABAKI dibentuk pada tahun 1968 memiliki mandat untuk terus mewujudkan cita-cita masyarakat adat kasepuhan yang sejahtera dan terbebas dari segala tekanan serta ancaman terutama dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Acara konsolidasi Sabaki difasilitasi oleh Sahdi Sutisna atau Aji Panjalu dari RMI- Bogor. Sedangkan untuk menambah pengetahuan serta memperkaya khasanah diskusi terkait peluang dan pilihan-pilihan hukum hadir sebagai Narasumber yaitu Mumu Muhajir dari Epistema institute.

Dalam proses diskusi berkembang beberapa isu yang menarik terkait dengan kondisi faktual yang berkembang di masyarakat Adat kasepuhan diantaranya adalah :

Ditemukan beberapa kasepuhan yang tidak memiliki wilayah adat namun aturan serta kelembagaan adat masih kuat serta dijalankan oleh komunitas

Lintas batas kasepuhan yang terpisah secara admininstratif dimana kasepuhan inti berada di wilayah yang berbeda seperti Kasepuhan Ciptagelar, Sinaresmi dan Ciptamulya yang berada diwilayah Sukabumi namun Para pengikut kasepuhan menyebar di Kabupaten Lebak

Persepsi dari Sebagian Pemerintah Desa yang hadir bahwa Undang-undang Desa yang mengakomodir Desa Adat tidak dapat dilakukan diwilayah kasepuhan karena akan menimbulkan konflik kepentingan.

Perlu penggalian mendalam terkait dengan aturan adat serta pola hubungan antara kasepuhan dengan desa serta pola pengelolaan Sumber daya alam terutama yang berkaitan dengan pengelolaan pihak lain seperti Taman Nasional, Perum Perhutani dan Perusahaan lainya.

2 comments on “Konsolidasi Kasepuhan Banten Kidul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.