Kepala Desa Warungbanten Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Prov Banten membuat gebrakan baru dengan menjadikan “makanan tradisional sebagai menu wajib dalam acara – acara di desa“. Program tersebut bukan berarti membatasi masyarakat untuk mengkonsumsi makanan pabrikan atau makanan dari luar, tetapi justru hal ini untuk memberikan motivasi masyarakat agar bisa menghargai kekayaan alam di daerah sendiri. 

Butuh waktu untuk merubah kebiasaan masyarakat tersebut, melalui ngobrol bareng warga, tokoh dan lembaga desa dan disepakati dalam sebuah musyawarah desa. Tidak ada satupun warga yang menentang kebijakan kepala desa tersebut setelah warga menyadari manfaat dari makanan tradisional dan dampak negatif dari makanan pabrikan. 

Beberapa contoh yang makanan tradisional warisan para karuhun antara lain : combro, misro, katimus, singkong, pisang, talas, ubi, gula merah, bangkerok, gegetuk, bubur sair, bubur sumsum, putri noong, papais, lempis, apem, gaplek, carucub, kolek, opak, dan sebagainya. 

Jika kita perhatikan dan kita rasakan betapa banyak manfaat dari makanan tradisional tersebut, antara lain :

1. Bisa terangkat kembali makan tradisional yang sudah terlupakan.

2. Akan lebih mudah mendapatkannya karena ditanam dan di produksi di tanah sendiri.

3. Dari sisi kesehatan sangat jelas karena diolah secara tradisional seperti di kukus, di bakar atau langsung dimakan mentah dan tanpa menggunakan bahan bahan yang berbahaya, seperti pengawet, pewarna zat zat berbahaya lainya. 

4. Secara ekonomi, jelas sangat membantu masyarakat karena hasil kekayaan yang ada di desa akan mudah di pasarkan. Untuk jangka panjangnya akan menjadi industri rumahan bagi warga dan akan menjadikan desa sebagai mandiri secara ekonomi.

5. Efektipitas, dengan sendirinya akan mengurangi lahan tidur menjadi lahan produktif dan akan lebih meningkatkan kesehatan lingkungan dari pencemaran sampah plastik yang selama ini menjadi masalah dilingkungan desa.

“Sebagai masyarakat pedesaan sudah seharusnya kita menghargai dan memanfaatkan makanan tradisional menjadi makanan unggulan bukan malah sebaliknya.” ujar Ruhandi selaku Kades Warungbanten.

Ti kula, nu kula, keur kula demi indonesia”