Warungbanten.desa.id_ Sebagian besar masyarakat desa Warungbanten kecamatan Cibeber merupakan petani, baik petani sawah dan juga ladang (huma). Cara bercocok tanampun berbarengan karena memang masih mengikuti aturan adat. Biasanya ada intruksi langsung dari pupuhu adat, kapan waktu bercocok tanam yang tepat.

Dalam setahun biasanya dua kali masa bercocok tanam dan dua kali panen dengan jenis padi yang berbeda kecuali ladang hanya satu tahun sekali.

Waktu panen telah tiba dan disinilah mulai kesibukan dan keriangan datang bagi para petani dan biasanya panen untuk ladang lebih duluan daripada padi sawah. 

Khusus padi besar atau padi ranggeuy langsung di simpan di lantayan (tempat menjemur padi sementara ) sebelum dimasukan ke lumbung padi selama satu atau dua minggu tergantung cuaca.

Lantayan tempat penyimpanan padi sementara sebelum di simpan di lumbung padi (leuit).

Setelah kering padi langsung di ikat (di pocong) dan dibawa (diunjal pake rengkong :terbuat dari bambu dan pake pananggung) ke lumbung padi sebagian, disimpan dirumah untuk cadangan nganyaran (syukuran) dan biasanya dicadangkan juga untuk jekat dan ini sudah biasa dilakukan semenjak jaman nenek moyang terdahulu. 

Lumbung padi (leuit) tempat menyimpan padi hasil panen yang sudah kering untuk cadangan/bekal hidup sehari -hari. (foto leit disampalan leneng ds warungbanten)

Ada sisi unik dari hasil panen di pedesaan (khususnya desa warungbanten) padi tidak boleh dijual (buyut) tetapi harus disimpan di lumbung padi yang sudah disiapkan. Kwalitas padi  di lumbung bisa 15 sapai dengan 25 tahun terutama padi yang menggunakan pupuk alami.  
Dan ini bukti bahwa kedaulatan pangan sudah diajarkan olek nenek moyang sejak dulu.