Beberapa anak sedang membaca di TBM KULI MACA desa Warungbanten.

Matahari bersinar, membingkai panorama alam yang indah – cicit burung-burung riang berkicau di ranting pephonan dan gemerisik angin membelai dedauan, hamparan hijau sejauh mata memandang – mengiringi nyanyian pagi yang sejuk ditingkahi keceriaan anak-anak dengan seragam merah putih berjalan beriringan menuju ke sekolah. Sebagian besar kaum ibu terlihat sibuk beraktifitas di dapur, sementara para bapak masih menikmati sarapan pagi bersama segelas kopi, sebelum beranjak memulai aktifitasnya menuju ladang dan huma tempat sebagian besar warga desa berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sementara kepulan asap putih membumbung menghiasi atap dapur rumah-rumah yang berjejer di desa itu. Serupa kain sutera selimuti hangatnya pagi memastikan udara jauh dari polusi.
Inilah cerita saya, seorang warga desa yang tinggal jauh dari keramaian kota. Saat ini saya kuliah semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Setia Budhi Rangkasbitung. Meskipun saya nge-kost, tapi saya kerap pulang ke rumah orangtua, selain untuk mengambil uang kebutuhan bulanan juga untuk sekedar melepas rasa rindu dengan keluarga. Jarak antara kampus dan kampung halaman saya tempuh dengan mengendarai motor sekitar 4 jam, dan terus terang saja, bukan hanya ingin melepas rindu, namun saya sungguh mencintai desa saya yang keindahan dan keasrian alamnya membuat saya ingin segera menyelasaikan kuliah untuk kemudian mengabdikan diri membangun desa. Terlebih semangat untuk memajukan desa tertaman sejak kebijakan pemerintah yang memperioritaskan desa sebagai ujung tombak pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Di lingkungan kampus, saya lebih tertarik bergabung bersama para pegiat literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kedai Proses yang letaknya persis di samping kampus. Berbagai macam prestasi yang diraih oleh para pegiat di TBM tersebut melalui kiprahnya dalam mengembangkan minat baca masyarakat di Banten, khususnya Kabupaten Lebak, menginspirasi saya untuk terlibat secara penuh dalam kegiatan “Gerakan Indonesia Membaca”. Dan kelak saya akan bercerita bagaiamana teman-teman di desa – dengan dukungan penuh para sesepuh adat serta peran aktif kepala desa – berkiprah dalam pengembangan minat baca melalui Taman Bacaan Masyarakat. 

Inilah potret desa saya, yakni desa Warungbanten, kecamatan Cibeber, kabupaten Lebak. Sebuah desa yang masih dikelilingi oleh rimbunnya hutan dan huma, yang terletak di wilayah Banten Selatan. Kehidupan masyarakat desa yang sebagaian besar adalah bertani, hidupnya sangat bersahaja, terlihat dari rumah-rumah yang dibangun dengan sederhana. Tidak terlihat jurang perbedaan antara miskin dan kaya. Deretan leuit (lumbung) tempat warga menyimpan padi berjejer di area pinggiran desa seakan menjadi benteng ketahanan pangan warga. Selain itu masyarakat desa masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur. Menjalankan upacara tradisi menanam padi hingga pesta panen atau biasa disebut Seren Taun. Segala urusan terkait kepentingan desa dilakukan dengan cara musyawarah mufakat, sebab hampir semua warga desa masih memiliki ikatan atau silsilah keluarga. Keramahtamahan warga menjadi jaminan betahnya para tamu dari kota yang berkunjung untuk menikmati keindahan alam dan berbincang tentang kearifan lokal. 

Di pinggiran desa terdapat hutan tua seluas delapan hektare, warisan para leluhur bagi masyarakat desa bernama Dungus (Hutan Adat) Ki Bujangga yang dijaga ketat secara turun temurun oleh Lembaga Adat Kaolotan Cibadak. Di dalam hutan tersebut terdapat situs Batu Tumpeng atau Batu Nyungcung. Dungus Ki Bujangga adalah sumber mata air untuk kehidupan warga yang tidak boleh diusik apalagi dirusak kelestariannya. 

Pepatah luhur yang kerap disampaikan para sesepuh lembaga Kaolotan Adat Cibadak sebagai kearifan lokal yang menjadi api semangat para pemuda untuk kemajuan desa, sebuah siloka yang berbunyi; “Neangan luang ti papada urang, Neangan luang tina daluang, Neangan luang tina kalangkang, Neangan luang tina haleuang”. Jika diartikan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia kira-kira seperti ini: Mencari ilmu pengetahuan untuk meningkatkan sumber daya manusia (neangan luang) dapat diraih dengan empat cara, yakni (1) (ti papada urang) artinya dari sesama kita, mencari ilmu melalui sesama saudara, kerabat dan sahabat dengan berdiskusi atau berdialog agar saling berbagi ilmu dan pengalaman, (2) (tina daluang) yang berarti kertas maksudnya dengan membaca buku, (3) (tina kalangkang) artinya dari bayangan maksudnya melalui imajinasi, visi dan misi merancang masa depan, dan (4) (tina haleuang) artinya dari suara tembang orang bernyanyi atau keindahan, dapat juga diartikan dengan kesenian dan tradisi budaya. Dari pepatah kuno para leluhur kami, semangat literasi rupanya telah menjadi warisan Kaolotan Adat Cibadak sejak jaman baheula (jaman dulu). Nasihat yang akan menjadi pemantik api bagi berkobarnya semangat literasi di desa kami. 

Desa Warungbanten memiliki Rumah Adat Kaolotan Cibadak sebagai pusat kegiatan warga, baik kegiatan musyawarah desa maupun pengajian agama dan kegiatan lainnya. Untuk pertama kalinya sekitar bulan Juli tahun 2014 di tengah gencarnya gerakan literasi yang diusung oleh para pegiat TBM semakin menggejala hingga ke pelosok-pelosok desa di kabupaten Lebak, saya dan teman-teman pun seperti ikut terjangkit virus literasi, kemudian terinspirasi dan berinisiatif menggagas berdirinya taman bacaan, sebagai sebuah tempat yang sedianya diperuntukan sebagai sarana belajar bagi masyarakat. 

Sejak itu cikal bakal Taman Bacaan Masyarakat sudah terbentuk. Euphoria gerakan literasi demi menumbuhkembangkan minat baca di masyarakat serupa balon udara yang terus menggelembung dan membumbung tinggi di benak teman-teman desa. Semangat literasi seakan menjadi jalan terbuka buat saya untuk memulai kiprah membangun desa. Jika mengingat masa kecil yang terbilang sulit untuk mendapat buku bacaan menarik serasa seperti barang mewah yang sulit didapat. Ada dendam masa lalu yang ingin saya lampiaskan bersama teman-teman untuk bagaimana caranya agar masyarakat desa akrab dengan buku bacaan. Menyediakan buku-buku bacaan yang menarik bagi warga desa. 

Rak buku berbentuk leuit atau lumbung setinggi 2,5, meter berada di aula rumah Adat Akolotan Cibadak menjadi maskot Taman Bacaan Masyarakat sebagai penanda bahwa lumbung tidak hanya tempat menyimpan padi, akan tetapi sebagai tempat tersimpannya beragam ilmu pengetahuan yang ada di buku-buku bacaan yang tertata rapih dan siap dibaca oleh siapapun yang datang. Mengingat nasihat leluhur tentang siloka yang berbunyi neangan luang tina daluang, sebagaimana telah disebut diatas dengan arti “mencari ilmu dari kertas (membaca buku-buku)”, maka pada 24 Desember 2014 akhirnya TBM Kuli Maca diresmikan. Dengan harapan dapat membawa perubahan positif di desa Warungbanten tanpa harus mengubah kearifan lokal yang telah menjadi tradisi warga secara turun temurun. 

Dibentengi oleh puluhan relawan dari pelajar dan mahasiswa serta didukung penuh para sesepuh dan pihak pemerintahan desa, pegiat literasi TBM Kuli Maca terus berkiprah mengembangkan jaringan antar relawan serta aktif dalam setiap kegiatan gerakan literasi di Banten. Dimulai dari kegiatan internal bersama warga desa berupa kegiatan rutin Gerakan Minggu Membaca setiap hari minggu mulai pukul 08.30 s/d 15.30. Siapapun bisa memanfaatkan koleksi buku di TBM ini, mulai dari anak sekolah, pelajar dan orang tua baik dari warga desa Warungbanten sendiri maupun warga dari luar desa. Diskusi-diskusi seputar gerakan literasi juga digalakkan dengan menghadirkan narasumber dari pegiat literasi untuk berbagi ide kreatif dan pengalaman berorganisasi. 

Meskipun koleksi buku yang tersedia di TBM Kuli Maca masih terbilang belum lengkap, namun aktifitas yang dilakukan disana tidak hanya sekedar tempat untuk membaca bagi para warga. Namun juga merupakan ruang aktifitas dalam melaksanakan berbagai kegiatan kreatif, diskusi keagamaan, rembug strategi pembangunan desa dan bermusyawarah menggali potensi lokal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa ke arah yang lebih baik di masa depan. 

Dalam diskusi-diskusi yang dilakukan di TBM Kuli Maca, kami bersepakat untuk mengangkat seluruh potensi lokal yang ada di desa Warungbanten. Dimulai dari makanan lokal yang disediakan untuk setiap acara dan kegiatan, kami tidak membeli makanan kemasan. Semua diolah melibatkan warga. Para pegiat TBM Kuli Maca juga membantu memasarkan hasil produksi warga desa seperti gula aren dan kerajinan anyaman bambu. Gotong royong membersihkan lingkungan dan sungai juga kami lakukan bersama warga. 

Melalui TBM Kuli Maca, selain menjadi pusat belajar warga, Komplek Lingkungan Kaolotan Cibadak yang terdiri dari rumah adat yang dijadikan aula warga dan rumah singgah yang diperuntukan untuk tamu yang datang dari kota, diharapkan dapat menjadi lokasi pariwisata bagi para peneliti dan penulis yang ingin menikmati suasana dalam menggali inspirasi yang sudah barang tentu akan dilayani sepenuhnya oleh relawan yang murah senyum dan bersikap ramah untuk melewati malam hening di lereng pegunungan yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Halimun. 

Seiring waktu berjalan, geliat literasi di desa kami terus berkembang. Bersama teman-teman TBM Kuli Maca, saya dan teman-teman aktif dalam jaringan literasi di Banten. mempromosikan berbagai potensi yang ada di desa kami melalui kegiatan gemar membaca. Hasil produksi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang dibangun oleh kepala desa Ruhandi seperti gula aren, kerajinan anyaman bambu, serta produksi sablon dan tidak ketinggalan tradisi adat yang masih dilestarikan di desa Warungbanten terus kami kabarkan di setiap kesempatan pertemuan dengan para relawan literasi di Banten. 

Pada Minggu, 14 Mei 2017 TBM Kuli Maca mendapat kunjungan dari komunitas Motor Literasi. Membawa sejumlah buku dari KPK sebagai buah tangan mereka. Beberapa hari sebelumnya dipimpin oleh Jaro (Kepala Desa) Ruhandi kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan tamu istimewa tersebut. Kedatangan puluhan relawan Moli (Motor Literasi) mendapat sambutan hangat dari warga. Berbagai atraksi kami siapkan sebagai bentuk rasa sukur seakan kedatangan keluarga jauh. Merangkai hangatnya kebersamaan dalam jalinan silaturahmi warga desa yang guyub menyambut kedatangan tamu. 

Upacara adat dan berbagai atraksi kesenian tradisional seperti Tarian Rengkong, Lisung dan Angklung Buhun menjadi persembahan. Masyarakat desa Warungbanten berkumpul menyaksikan penuh kegembiraan. Permainan dengan hadiah menarik bagi warga yang beruntung disampaikan oleh relawan menjadi kebahagiaan yang tak bisa dilupakan oleh warga. Sajian makanan khas desa nasi liwet, sambel terasi, ikan bakar dan lalap-lalapan yang langsung dipetik dari pohon serta penganan tradisional seperti jejorong, pasung rangginang dan lain-lain semakin menggenapi kebahagiaan. Semua disediakan oleh warga dengan semangat empat lima. 

Itulah hikmah dari siloka para leluhur tentang Neangan luang ti papada urang yang saya dan teman-teman rasakan. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dari sesama relawan literasi mambuat kami semakin yakin akan masa depan desa kami yang lebih baik ke depan. Di bawah pimpinan Jaro Ruhandi semangat literasi semakin menggelora di dalam dada. Meskipun kami tahu opini tentang rendahnya minat baca di Indonesia, seperti informasi yang diliris dari “penelitian UNESCO tahun 2012 menyebutkan bahwa minat baca di Indonesia hanya 0,0001 %. Artinya dari 1000 orang, hanya 1 orang yang suka membaca buku. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, minat baca Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Kompas (28/8/2016)”

Opini negatif tentang rendahnya minat baca sejatinya tidak ditemukan di desa kami. Terlihat betapa antusiasnya warga masyarakat mengunjungi TBM Kuli Maca setiap hari. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa berkunjung ke TBM kami untuk membaca. Seperti yang disampaikan Jaro Ruhandi, minat baca tidak rendah, pertanyaannya: sudahkah kita mendekatkan buku kepada masyarakat? Sudahkah kita memberikan sarana yang baik bagi masyarakat untuk membaca dengan nyaman dan menyenangkan? Untuk mewujudkan hal tersebut, tentunya diperlukan penyediaan buku-buku bacaan yang memadai dan sesuai dengan keinginan warga. Pemerintah perlu memfasilitasi ketersediaan buku-buku jika ingin menepis opini negatif tentang rendahnya minat baca di masyarakat. Seraya meyakinkan pada dunia bahwa opini tersebut jelas-jelas tidak benar. Opini yang diliris oleh lembaga asing tentang rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sejatinya tidak tepat, yang sesungguhnya terjadi adalah ketersediaan buku bacaan yang masih sangat minim bagi masyarakat. 

Menjawab pertanyaan di atas dan untuk menepis opini negatif tentang rendahnya minta baca masyarakat, kami pun berinisiatif memperluas program TBM Kuli Maca. Sejalan dengan program desa yang mengharuskan dibangunnya Perpustakaan Desa, maka Perpusdes Kuli Maca adalah bagian dari pengembangan TBM Kuli Maca. Kami para relawan literasi kembali berjibaku dengan semangat membangun perpustakaan bersama-sama warga. Tidak ada yang berat dilakukan jika itu demi kemajuan desa. Dengan restu para sesepuh kami membangun desa dengan filosafi kearifan lokal, “Nenangan luang tina daluang”. 

Apa yang telah kami lakukan di TBM Kuli Maca rupanya tidak sia-sia. Dalam waktu yang hampir bersamaan, di bulan yang sama kami meraih tiga penghargaan sekaligus atas upaya mengembangkan minat baca dan budaya literasi di desa kami. Pemimpin kami, Jaro Ruhandi menerima penghargaan tersebut, penghargaan pertama dari Bupati Lebak atas dedikasinya sebagai pegiat Kampung Literasi di kecamatan Cibeber kabupaten Lebak, pada 2 Mei 2017; Penghargaan kedua dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Daerah Banten atas jasa serta dedikasinya dalam membangun masyarakat literasi di provinsi Banten, pada 16 Mei 2017, dan; Penghargaan ketiga dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten sebagai Juara I Lomba Perpustakaan Desa/ Kelurahan tingkat Provinsi Banten, pada 17 Mei 2017.

Progresivitas Jaro Ruhandi, kepala desa yang berusia 32 tahun ini terus memotivasi kami para relawan TBM Kuli Maca untuk tidak bosan mengabdi pada masyarakat. Menjadikan gerakan gemar membaca tidak hanya sekedar program yang pada akhirnya selesai dan berhenti, akan tetapi bagaimana caranya agar minat dan kegemaran membaca menjadi kebutuhan bagi warga untuk membekali mereka dengan ilmu pengetahuan. Pentingnya membaca harus jadi kebutuhan warga. Itulah tantangan ke depan para pegiat literasi di TBM Kuli Maca yang harus dicarikan formulasinya agar visi membangun desa dapat dimulai dari tradisi membaca. Upaya yang saya dan teman-teman lakukan adalah mendekatkan buku kepada masyarakat untuk menepis opini negatif rendahnya minat baca di Indonesia. 

* Penulis adalah mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, Lebak-Banten.