Desa Warungbanten (Desa Literasi dan Adat Budaya)

​Desa Warung Banten (Desa Literasi dan Adat Budaya)

Oleh :Dian Wahyudi

Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak

Jaro Ruhandi Kepala Desa Warungbanten mengenakan iket hitam di acara seren taun Kaolotan Cibadak 2017

Warungbanten.desa.id_Nama Cikotok, mungkin sangat kita kenal, salah satu tempat di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, terkenal sejak zaman Kolonial Belanda sebagai lokasi penghasil Tambang Emas, yang kemudian dilanjutkan oleh PT Antam oleh Pemerintah RI. Namun, sejalan waktu, kandungan Emas-nya sekarang sudah habis.

Masih di Kecamatan Cibeber, terdapat nama Desa Warung Banten. Pernah mendengar ? mungkin tidak banyak yang tahu, apalagi datang ke Desa ini. Padahal, Desa Warung Banten merupakan ibu kota Kecamatan Cibeber, sarat dengan Adat Budaya Kasepuhannya. 
Melalui tangan dingin Kepala Desa atau Jaro Ruhandi, Jaro yang masih berusia 31 tahun ini, Desa Warung Banten berbenah maju. Potensi Desa yang dikembangkan ternyata bukan hanya sekedar warisan tutur leluhur berupa kearifan lokal, namun juga terus dikembangkan dan diaplikasikan dalam keseharian Desa, salah satunya adalah Budaya Maca, Budaya Literasi dikembangkan sebagai tujuan untuk kemajuan Desa.  
Jaro Ruhandi, pernah bercerita kepada saya, Budaya Maca merupakan warisan berharga, walau mungkin disampaikan dalam budaya bertutur. Pepatah luhur yang kerap disampaikan para sesepuh lembaga Kaolotan Adat Cibadak sebagai kearifan local, seolah menjadi api semangat para pemuda untuk kemajuan desa, sebuah siloka yang berbunyi ; “Neangan luang ti papada urang, Neangan luang tina daluang, Neangan luang tina kalangkang, Neangan luang tina haleuang”. 
Jika diartikan secara bebas : Mencari ilmu pengetahuan untuk meningkatkan sumber daya manusia (neangan luang) dapat diraih dengan empat cara, yakni (1) (ti papada urang) artinya dari sesama kita, mencari ilmu melalui sesama saudara, kerabat dan sahabat dengan berdiskusi atau berdialog agar saling berbagi ilmu dan pengalaman, (2) (tina daluang) yang berarti kertas maksudnya dengan membaca buku, (3) (tina kalangkang) artinya dari bayangan maksudnya melalui imajinasi, visi dan misi merancang masa depan, dan (4) (tina haleuang) artinya dari suara tembang orang bernyanyi atau keindahan, dapat juga diartikan dengan kesenian dan tradisi budaya. 
Dari pepatah para leluhur kami itulah, semangat literasi menjadi warisan Kaolotan Adat Cibadak sejak jaman baheula (jaman dulu). Nasihat yang akan menjadi pemantik api bagi berkobarnya semangat literasi di desa kami. 
Hari-hari ini, upaya Jaro muda ini membuahkan hasil. Hal yang membanggakan bagi kita, ada Desa nun jauh disana di salah satu desa di Kecamatan Cibeber meraih berbagai Juara dalam bidang pengembangan Literasi di daerah. 
Adalah Perpustakaan Desa Kuli Maca Desa Warungbanten meraih empat penghargaan berturut-turut ditahun 2017 ini, yaitu Penghargaan dari Bupati Lebak atas Dedikasinya sebagai pegiat Kampung Literasi di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, Penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Daerah Banten atas jasa serta dedikasinya dalam membangun masyarakat literasi di Provinsi Banten, Penghargaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten sebagai Juara I Lomba Perpustakaan Desa/ Kelurahan tingkat Provinsi Banten dan masuk menjadi 5 besar dalam Lomba Perpustakaan Desa/ Kelurahan yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional beberapa waktu yang lalu.
Perpustakan Desa Kuli Maca masuk 5 besar setelah menyisihkan 71.000 perpustakaan desa/ kelurahan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia yang dibagi menjadi tiga zona, yakni (1) Zona A wilayah perkotaan terdiri 1. Bandung, 2. Jogjakarta, 3 Bali, 4. Sulawesi Selatan, 5. Jawa tengah. (2) Zona B wilayah pedesaan terdiri 1. Aceh, 2. Bengkulu, 3. Wakatobi, 4. Lubuk Linggau, 5. Perpusdes Kuli Maca desa Warungbanten yang mewakili Banten. (3) Zona C wilayah pelosok daerah terdiri 1. Sulawesi Barat, 2. Maluku, 3. Kalimantan Barat, 4. Nusa Tenggara Barat, 5. Fakfak, salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat.
Dengan capaian prestasi tersebut, tidak membuat Jaro Ruhandi jumawa, bahkan dengan bijak, merasa perlu meminta maaf karena hanya mampu masuk 5 Besar Nasional dari 34 Provinsi. Menurut Ruhandi, ini bukan akhir, justru PR besar di depan sedang menghadang, ini hanyalah bonus, dan berjanji akan lebih baik lagi.
Gerakan literasi, dalam hal ini gerakan budaya baca, menurut Jaro Ruhandi, baginya bukanlah suatu program, melainkan merupakan suatu kebutuhan, sebab Program gemar membaca yang dicanangkan untuk masyarakat, belum tentu menjadi kebutuhan yang diinginkan. Namun jika gerakan budaya baca dijadikan kebutuhan masyarakat akan secara otomatis akan menjadi program yang diterima oleh masyarakat dengan sukarela. Tinggal bagaimana kita mensiasatinya dengan cerdas.
Potensi Wisata Budaya Adat
Seperti yang saya sampaikan di awal, seiring perkembangan zaman, Desa Warungbanten ternyata tidak meninggalkan adat budaya yang sudah puluhan tahun keberadaannya. Tetap kukuh memegang Adat, dengan Lembaga Adat Kaolotan Cibadak yang menyimpan seribu cerita. Kepatuhan terhadap budaya leluhur masih ada disini, sehingga terjalain kerukunan antar sesama sangat kuat begitu pula budaya gotong royong masih dipertahankan.
Selain itu, keindahan alamnya tidak kalah menarik dari tempat tempat lain, seperti dungus Kibujangga yang memiliki luas 8 hektar berada di kampung Cibadak, Situs Batu Tumpeng atau Batu Nyungcung di dalam kawasan dungus Kibujangga yang akan kami jaga, sebagai sumber mata air untuk kehidupan warga, tidak boleh dirusak, ada juga rumah adat di samping dungus Kibujangga yang bisa dijadikan tempat istirahat untuk tamu dan tempat pelatihan, kegiatan sosial dan kegiatan lainnya, Situ Ciparay di kampung Warungbanten yang direncanakan sebagai tempat pemancingan dan budidaya ikan air tawar dan juga keindahan Lumbung Padi yang masih lestari. 
Terdapat Leuit (Lumbung Padi) di pinggiran hutan adat yang tertata rapih menjadi simbol ketahanan pangan desa.

Kegiatan tahunan yang masih lestari adalah Seren Taun, Sunatan Massal, Sedekah Bumi yang dilakukan setiap 10 tahun sekali. Begitu pula dengan kesenian tradisional masih dimumule atau dijaga keberadaanya dan seringkali ditampilkan kesenian dalam setiap kegiatan tingkat kabupaten dan provinsi yaitu rengkong, sebuah kesenian arak-arakan (helaran) pada setiap Upacara Seren Taun. 
Dalam keseharian masyarakat, Rengkong merupakan Salah satu alat musik tradisional kaolotan cibadak yang terbuat dari bambu surat/mayan dengan panjang standard orang dewasa dua meter, digunakan untuk membawa padi (ngunjal), padi yang dibawa merupakan padi yang sudah kering untuk kemudian disimpan ke lumbung padi (leuit), terutama diwajibkan ketika membawa padi milik ketua adat. Rengkong juga bisa bunyi jika diberi beban (padi kering yang sudah dipocong atau diikat) lalu digerakan oleh orang yang sudah terbiasa. Biasanya lebih pasnya jika diiringi dengan alat musik angklung, gendang dan goong. 
Potensi Desa yang luar biasa, kombinasi potensi alam yang indah dan Adat leluhur, menjadikan Desa Warungbanten sangat berpotensi menjadi salah satu tujuan wisata di Kabupaten Lebak. 
Eksotisme alam Desa Warungbanten menyimpan banyak potensi. Budaya gotong royong yang terus terjaga, menanam padi, beternak ikan dan membuat gula merupakan bagian kehidupan yang tak dapat dipisahkan dari warga. Semoga, konsep perencanaan telah disiapkan, sebagai bagian dari pengembangan wisata dan Sumber Daya Manusia (SDM) Desa Warungbanten.
Munculnya potensi Destinasi wisata baru di Lebak tentunya memberi semangat baru, bahwa Lebak dapat terus berbenah dan maju, mengelola segala potensi yang sangat berlimpah. Pemberdayaan potensi alam dan pembekalan SDM sangat diperlukan, agar potensi tersebut dapat diberdayakan secara maksimal tanpa harus merusak ekosistem alam. 

Wallahu’alam bishawab.

Sumber : fb Dian Wahyudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.