Pentingnya Akurasi Data Untuk Mengukur Kemajuan  Desa

Berita acara penetapan status desa dengan pengukuran Indeks Desa Membangun (IDM) sesuai dengan SOP yang dilakukan oleh PLD (Elna Syamsudin) di Desa Warungbanten dengan  hasil status Desa Berkembang . 30 Maret 2017. 

Oleh : Elna Syamsudin (PLD  Warungbanten) 
Warungbanten.desa.id-Mengukur suatu obyek pasti melibatkan berbagai aspek elemen rumusan dan kajian-kajian secara teknis tertentu yang merujuk kepada kaidah disiplin ilmu untuk mendapatkan suatu nilai. Nah dalam konteks ini desa adalah obyek yang diukur dari berbagai aspek dan sudut-sudut menurut kebutuhan si pengukur, misalnya ukuran tingkat kesejahteraan, ukuran tingkat sosial budaya, ukuran tingkat kesehatan, tingkat pembangunan, tingkat populasi, dan lain – lain.

Pada bulan Maret 2018, Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) mengirimkan kueisioner pemutakhiran data Indeks Desa Membangun (IDM) melalui Pendamping Lokal Desa (PLD) di masing – masing desa yang disebarkan secara serentak diseluruh Indonesia, dimana didalamnya terdapat isian yang sangat komplek dan lengkap, mulai dari Identitas Desa, Data Geografi, Topografi, Demografi, Dimensi Sosial, Dimensi Ekonomi, Dimensi Ekologi, Aktifitas Desa, dan Sumber Pendapatan Desa.

Dalam Buku Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemutakhiran Status Perkembangan Desa Indeks Desa Membangun (IDM), IDM merupakan Indeks komposit yang di bentuk berdasarkan tiga indeks, yaitu Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE), dan Indeks Ketahanan Ekologi/Lingkungan (IKL).

Itulah komponen-komponen pembentuk dan kerangka desa maju dan mandiri, dimana didalamnya terdapat saling keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan dan harus mampu saling mengisi dan menjaga potensi serta kemampuan desa untuk mensejahterakan kehidupan desa secara berkelanjutan. Memperkuat nilai – nilai lokal dan budaya, pemerataan secara berkeadilan, serta ramah lingkungan dalam mengelola potensi sumber daya alam.

Desa Warungbanten adalah salah satu desa yang turut serta dalam aktifitas pengisian kueisioner tersebut yang difasilitasi Elna Syamsudin sebagai pendamping lokal desa (PLD) yang memang kegiatan kesehariannya bersentuhan langsung dengan pemerintahan desa Warungbanten, dan sudah diselesaikan pada awal bulan April 2018. Teknik perhitungannya yaitu setiap indikator memiliki skor nilai 0 – 5, Skor ditetapkan berdasarkan hasil FGD Analytical Hierarchy Process (AHP).

Perhitungan indeks pada setiap dimensi dilakukan dengan metode skoring yang kemudian ditransformasikan menjadi sebuah Indeks. Indeks Desa Membangun dihasilkan dari rata – rata Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks Ketahanan Lingkungan, dan klasifikasi status desa yaitu: Desa sangat tertinggal, Desa tertinggal, Desa berkembang, Desa maju, dan Desa madiri (Untuk rumus lebih detail silahkan baca SOP Pemutakhiran status perkembangan Desa yang diterbitkan oleh Kemendes PDTT). 

Setelah data di input Desa Warungbanten memiliki klasifikasi dengan status Desa Berkembang (Data yang di input Tahun Anggaran 2017), hasil inputan selanjutnya direkap oleh Pendamping Desa Pemberdayaan di tingkat kecamatan, diteruskan ke Tenaga Ahli tingkat kabupaten, dan seterusnya sampai pusat yang akhirnya adalah membentuk sebuah bank data yang berkaitan dengan potret perkembangan desa berdasarkan implementasi Undang-Undang Desa dengan dukungan Dana Desa serta pendamping Desa.

Disinilah kebutuhan manajemen pembukuan, pelaporan pertanggungjawaban dan ketersediaan data yang akurat serta tepat harus dimiliki desa, dalam tertibnya ketersediaan data adalah termasuk inovasi yang tepat, karena data adalah salah satu penentu dan ukuran  keberlangsungan penyelenggaraan pemerintahan Desa.

Indeks Desa Membangun mengarahkan betapa pentingnya sebuah data – data yang terdapat di desa dengan sistematis dan tingkat akurasi yang tinggi berbasis pada kejujuran informan serta inputan data itu sendiri, artinya desa diharapkan memiliki sistem data yang di update setiap waktu, terbukukan, dan tersimpan dalam database desa itu sendiri.

Setiap desa pasti mampu mengembangkan sistem kepemilikan datanya masing-masing sesuai dengan karakteristik dan manajemen yang berbeda, dan tidak melanggar kaidah disiplin ilmu. Hak seorang pendamping desa mendapatkan informasi dan data dari hasil penyerapan atau realisasi Dana Desa dalam APBDes dan kewajiban desa pula menginformasikan data tersebut kepada pendamping, karena memang pendamping desa sebagai pengawal Dana Desa itu sendiri, lagi – lagi ke akuratan data lah yang sangat berperan dalam hal ini.

Itulah sekilas salah satu rangkaian betapa pentingnya peran sebuah akurasi data yang terupdate dan termanajemen, itu baru dari sudut Indeks Desa Membangun, belum lagi dari kementrian-kementrian lain yang membutuhkan kajian-kajian data yang terdapat di Desa, karena memang Data di Desa adalah hal yang vital penentu kemajuan Desa. Mudah – mudahan bermanfaat untuk pembaca semua dimanapun berada, Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.