AKU DAN SI HITAM MANIS ; GULA AREN

 
www.warungbanten.desa.id_Pagi sekali aku sudah bangun, bersiap keluar rumah ketika awan masih terlihat hitam. Kuambil golok dan bumbung bambu (lodong) yang tergantung di tiang, bumbung bambu yang kugunakan sebagai wadah untuk mengumpulkan bulir-bulir air nira, bahan pembuat gula aren. Santai kuayunkan langkah menuju hutan. Sejuk angin pagi berhembus diantara kicau burung seakan mengucap salam, “selamat tinggal malam.” Namaku Dika Setiawan, lahir 7 Februari 1999, lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber tahun 2017. Sejak lahir aku tinggal di Kampung Cibadak, Desa Warungbanten, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak-Banten. Tempat tinggalku adalah sebuah kampung yang masih memegang teguh tradisi adat, yakni Kampung Adat Kaolotan Cibadak. Menginjak daun-daun kering yang lembab di atas tanah basah, sepasang kaki terbungkus sepatu boot hijau pupus terhenti. Hutan masih tampak gelap di hadapanku saat kakiku mulai memasuki gerbangnya, gerbang hutan yang ditandai dengan pepohonan rimbun di setiap sudutnya. 
Di tengah hutan aku melirik ke kanan dan ke kiri, begitu banyak pohon aren di hutan ini. Pohon-pohon aren yang selama ini telah menghidupi orang-orang di desaku secara turun temurun. Aku terus mencari pohon aren yang kuanggap banyak menghasilkan air nira. Pohon aren adalah sejenis tanaman yang termasuk dari jenis keluarga (arecaceae) palmae. Tanaman aren memiliki nama Latin Arenga Pinnata Merr. Sejarah aren berasal dari dataran Asia yang beriklim tropis. Fungsi dan kegunaan tanaman ini untuk dijadikan tanaman komersil karena setiap bagiannya dapat dimanfaatkan. Sebagai contoh, air nira dapat dijadikan gula merah atau gula aren, buahnya untuk dijadikan kolang-kaling, daunnya untuk atap rumah, serabut berwarna hitam dapat dijadikan ijuk, tali pengikat, sapu dan lain-lain. Selain itu, pohon aren dapat dijadikan tanaman herbal yang mempunyai banyak manfaat kesehatan bagi tubuh, yaitu sebagai obat batu ginjal, sariawan, radang paru-paru, deman, sakit perut, sulit buang air besar, ruam kulit dan lain-lain. Semua itu tentunya apabila dapat diolah dengan benar menurut ahli kesehatan herbal dan aku tidak memiliki kapasitas untuk itu. Karena aku cuma penyadap air nira yang megolahnya menjadi gula aren. 

Setelah berjalan beberapa lama akhirnya kutemukan pohon aren yang kutuju, aku langsung memanjat pohon itu, kucabut golok di pinggangku, kuayunkan tanganku untuk mengiris-iris batang buah aren agar keluar bulir-bulir nira, lalu menggantungkan bumbung bambu yang kosong di bawahnya agar air nira jatuh dari batang buah aren ke dalamnya hingga penuh. 

Setelah menyimpan bumbung bambu di pohon aren, aku mengisi kegiatan dengan mengangon kambing. Ya, selain mengambil air nira dan membuat gula aren, kegiatanku sehari-hari adalah seorang penggembala kambing dan setiap hari minggu aku menjadi relawan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kuli Maca yang bertempat di Imah Gede atau Rumah Adat Kaolotan Cibadak. Yah…, lumayan lah, hitung-hitung sedekah ilmu pada anak-anak yang membutuhkan, meskipun aku belum bisa bersedekah uang untuk saat ini. Padahal sewaktu masih duduk di bangku SMA, banyak kegiatan ekstra kulikuler yang aku ikuti, namun yang paling kusuka adalah bermain teater oleh karenanya terbit dalam diriku cita-cita ingin menjadi seorang aktor. 

Ketika hari mulai senja, kambing-kambing kumasukkan ke dalam kandang dan menjemput bumbung bambu yang pasti sudah penuh berisi air nira. Aku pun segera pulang, setiap langkah kaki kunikmati dengan penuh rasa bangga hingga tercipta kebahagiaan kecil yang mungkin tidak semua orang merasakannya, kebahagiaan itu semata-mata sebuah harapan bahwa aku akan menghasilkan sejumlah uang atas kerjaku hari ini mengambil air nira yang akan kuolah menjadi gula merah. 

Meskipun terkadang aku merasa, tidak sedikit orang yang mentertawakanku. Hal itu kurasakan ketika berjalan melintas dengan bumbung bambu berisi nira tersangkut di pundak, lamat-lamat kudengar bisik-bisik mereka mengatakan ‘’budak sakola kalah nyadap’’ (anak sekolah cuma bisa mennyadap air nira). Biarlah, kupikir mereka tidak pernah memahami dan mengerti implementasi dari sebuah pendidikan bahwa kita hidup harus pandai mengolah alam dan memeliharanya dan aku menghiraukan saja dengan seulas senyum saat berlalu di depan mereka.  

Sesampai di rumah, setelah beristirahat dan membersihkan badan, aku langsung mengolah air nira menjadi gula aren. Di rumah saja, tidak seperti orang lain yang membuat saung atau gubuk khusus untuk mengolahnya. Air nira kutuangkan ke dalam wajan besar di atas tungku terbuat dari tanah liat dengan kayu bakar yang sudah menyala. Butuh waktu yang cukup lama agar air nira menjadi Si Hitam Manis (sebutanku untuk gula aren). 

Meskipun begitu aku tetap bersabar menunggu, karena dalam prinsip hidup yang aku tahu, tidak mudah membuat segala sesuatu hal menjadi manis. Untuk menikmati manisnya kehidupan kita harus berani melewati kesulitan dan pahitnya perjuangan. Jadi untuk hidup bahagia kita butuh pengorbanan, contohnya cinta. Jika menyukai seorang perempuan dan ingin menjadi kekasihnya, kita butuh mengenalnya terlebih dahulu lalu melakukan pendekatan kemudian mencari waktu yang tepat untuk mengunkapkan perasaan kepadanya meski terkadang ketika ingin mengungkapkan perasaan itu selalu saja ada halangan, soal inilah, itulah. Nah, itupun juga sama halnya dengan Si Hitam Manis, aku harus menunggu waktu yang cukup lama agar bisa menikmatinya. 

Ah, kenapa lamunanku jadi melanglang jauh ke awang-awang? Sudahlah. Aku harus terus menambahkan kayu bakar agar api tidak padam. Proses pengolahan air nira sampai menjadi gula aren melalui beberapa tahapan. Tahap pertama setelah air nira mendidih dalam wajan berubah warna menjadi coklat kehitaman, biasanya kami menyebutnya Wedang. Rasa Wedang seperti bandrek tanpa campuran rasa jahe, murni air gula. Wedang ini juga biasa dihidangkan untuk menemani obrolan santai para warga desa di malam hari. 

Tahap kedua setelah air nira mulai mengental dan mulai menjadi gula muda atau biasa disebut cacaahan, Sebenarnya aku tidak mengetahui gula muda disebut cacaahan atau mungkin bentuknya seperti caah. Dan ketika aku tengah mengaduk-aduk adonan gula aren yang mulai mengental, tiba-tiba teman-temanku datang. Mereka langsung duduk mengelilingi tungku yang apinya sengaja aku kecilkan. Satu persatu mereka mencolek adonan gula dengan ujung alat pengaduk dan menjilatnya. Di desa kami, kegiatan ini biasa disebut Coletan; menikmati gula aren muda yang masih kental. 

Tahap ketiga dalam istilah di desaku adalah Memepes, yaitu mencapur biang atau campuran agar gula aren hasilnya bagus. Sebenarnya banyak campuran yang diberikan agar gula memiliki kualitas yang baik dan rasa yang enak. Akan tetapi aku hanya memberi campuran berupa tumbukan muncang atau gambir, sebab hanya itu yang paling mudah didapat. Sampai disini api harus dikecilkan untuk menghindari adonan gula tidak gosong. Sebab jika gosong berarti gagal menjadi gula aren. 

Pernah suatu ketika, waktu pertama kali aku belajar sendiri membuat gula aren. Sewajan penuh air nira yang sudah kental gagal menjadi gula aren karena gosong lantaran api pembakaran yang terlalu besar. Dari pengalaman itu, aku harus berhati-hati dalam setiap menjalani proses. Apapun prosesnya, bagiku harus dijalani dengan sabar, hati-hati dan penuh kesungguhan. Sebab sesal kemudian tiada berguna. Pengalaman itu membuat aku jatuh cinta pada pekerjaan yang aku tekuni, itulah mengapa aku menyebut gula aren buatanku sebagai Si Hitam Manis. 

Waaah…, rupanya Si Hitam Manis sudah siap dicetak. Setelah adonan gula aren dirasa cukup matang, wajan kuangkat dari perapian dan kusisir pinggirannya, kuaduk lalu kutuangkan dengan alat semacam arit yang dibengkokkan ke dalam cetakan. Cetakan terbuat dari kayu yang berlubang seukuran gula aren hampir menyerupai permaianan congklak anak-anak, setiap batang cetakan memiliki lima sampai enam lubang. 

Malam ini, sewajan besar penuh air nira yang kuolah berhasil mencetak 20 lebih gula aren. Setelah keras dan mengering, gula-gula itu kubungkus dengan daun aren. 20 buah gula aren kukemas menjadi sepuluh tangkup yang kubagi menjadi dua kojor atau dua ikat. Se-kojor gula aren berisi lima tangkup. Dua kojor Si Hitam Manis dibayar dengan harga enam puluh ribu rupiah. Itulah rejeki yang kuterima hari ini. Puji syukur atas nikmat dan karunia yang Allah limpahkan pada alam di desaku. 

Itulah gambaran sehari-hari seorang anak desa yang menjalani hidup sederhana. Aku dan adikku yang kini masih duduk di bangku sekolah dasar dilahirkan dari keluarga petani gula aren. Jadi aku masih memiliki darah keturunan pembuat gula aren. Sedangkan ibuku sama seperti ibu-ibu yang lain, tapi ibuku terkadang suka membantu pekerjaan bapakku membuat gula aren. Selain bertani menanam padi, banyak orangtua yang membuat gula aren sebagai mata pencahariannya. Sebab Aturan Adat yang kami taati di desa kami tidak membolehkan menjual padi. 

Dan sayangnya, sampai saat ini anak muda yang meneruskan usaha membuat gula aren jumlahnya semakin berkurang. Hal itu membuatku kawatir, siapa yang akan meneruskan tradisi orangtua kita mengolah pohon aren menjadi gula? Itulah sebabnya aku terus berusaha mencintai Si Hitam Manis dengan mengolah gula aren. Meskipun sesungguhnya aku juga berharap bisa meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah seperti anak-anak muda lainnya.  

Salam manis buat Si Hitam Manis dari Dika Setiawan (Idoy), Relawan TBM Kuli Maca Desa Warungbanten.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.