MENJAGA TRADISI TANAM PADI LADANG (NGAHUMA) 

Dudung salah satu warga desa warungbanten sedang melakukan pembersihan (ngaduruk) ladang/huma sebelum ditanami padi (ngaseuk).

Oleh : Rudianto (Mantri Tani Desa Warungbanten) 
Warungbanten.desa.id_Peningkatan dan pemenuhan cadangan pangan pokok (padi) dan tanaman pendamping (pisang, jahe,kunyit,hiris, jagung,dst) melalui peralihan areal tanam yang biasa dilakukan di lahan sawah irigasi tertier yang tersedia (pokok areal) menjadi beralih ke lahan darat/hutan/semak dst. 

 Selain sebagai pemenuhan kebutuhan diatas sistem tanam padi ladang/gogo (Huma) adalah salah satu ciri tradisi masyarakat adat di Desa Warungbanten yang sudah dilakukan secara turun temurun. Dan memiliki berbagai proses /prosedur yang ditetapkan oleh tetua adat.

Adapun realisasinya itu dilakukan ketika akhir musim kemarau (nyacar),dan dilakukan pembakaran /pembersihan rumput yang telah dilakukan penebangan dan penyiangan tersebut ketika sudah kering untuk dibakar (ngaduruk) sekitar pertengahan (juli -agustus)

Ketika sudah memasuki musim penghujan (September-oktober)barulah dilakukan penanaman benih/bibit (ngaseuk) dengan cara membuat lubang-lubang kecil sebagai tempat menyisipkan benih/bibit.

 Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan biasanya masyarakat adat juga menanam sejenis pohon-pohon kayu yang berfungsi sebagai penyambung kelangsungan ekosistem yang sebelumnya dilakukan penggundulan akibat proses tersebut dan juga sebagai bahan pemenuhan kebutuhan lainnya seperti membangun rumah, dan untuk di jual.

Selain itu jenis penanaman seperti ini tidak harus di tanah milik pribadi, melainkan tanah garapan orang lain juga bisa dilakukan. Hal tersebut juga berdampak positif bagi para petani yang memiliki lahan yang terbatas untuk bisa menyambung hidup, adapun bagi para pemilik lahan mereka juga sangat senang  karena lahan yang mereka miliki dapat terurus dan bermanfaat pula bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *