Warungbanten.desa.id_Festival Wewengkon Desa Warungbanten dihelat di halaman kantor Desa Warungbanten, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak-Banten pada Minggu, (23/12/2018).

Festival ini digagas oleh Ruhandi Kepala Desa Warungbanten bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan karunia-Nya dalam berbagai capaian kinerja pemerintahan desa, baik pembangunan infrasturktur maupun Sumber Daya Manusia. Selain itu festival juga bermaksud melakukan syukuran atau selamatan atas selesainya pembangunan Kantor Desa yang dibiayai oleh APBDes dan bantuan dari seorang dermawan yang tidak ingin disebutkan namanya.

Festival Wewengkon Desa Warungbanten dihelat dengan penuh kekhasan layaknya sebuah desa dimana terdapat komunitas adat yaitu Kaolotan Adat Cibadak. Dalam menjalankan setiap kebijakan pembangunannya, Pemerintah Desa selalu meminta petunjuk dan arahan serta nasihat dari Para Kasepuhan.

Sementara festival diselenggarakan melibatkan seluruh eleman masyarakat desa; DPD, Karang Taruna, PKK, dan seluruh Ketua RW/RT, seluruh elemen pemuda, dan tokoh masyarakat Desa Warungbanten.

Festival didukung secara gotong royong dan kompak oleh seluruh warga dengan berbagi tugas menyediakan makanan dan minuman khas desa, seperti makanan tradisional yang masih diolah dan dikonsumsi oleh warga pada setiap acara kenduri; Carucub, Bubur Sair, Bangkerok, Bakecrot, Putri Noong dan sudah pasti Dodol, Uli dan lain-lain. Juga minuman selain kopi dan the, ada juga minuman yang oleh warga disebut Wedang, yakni berupa olahan gula aren yang masih cair.

Sedangkan dekorasi stand pameran dihiasi dengan beragam rangkaian hiasan Janur (daun kelapa muda), Bubuai (bunga rotan), dan bingbin (bunga pohon aren) dimana stand diperuntukkan untuk memamerkan produk-produk kreatif karya warga Desa Warungbanten seperti kerajinan anyaman bambu; Kanderon, Miniatur Leuit, Miniatur Kongkorak, Wayang  Golek, juga kerajinan alat musik; Angklung Buhun, Gambang, Biola, Kendang, Kacapi dan Suling.

Seluruh bahan-bahan yang disebutkan diatas berasal dari Desa Warungbanten. Setiap RW/RT berbagi tugas menyediakan makanan dan minuman juga mengerjakan dekorasi di sekitar area acara Festival Wewengkon. Terdapat Lantaian (bambu tempat mengaitkan ikatan padi atau Pocongan) dan Leuit Mini yang menjadi properti tempat untuk berswafoto.

Festival menampilkan beberapa kesenian tradisonal khas Kaolotan Cibadak, yakni kesenian Rengkong, Gegendeh, kacapian,  biola,  dan Angklung Buhun serta dibacakan narasi yang mengiringi pada setiap masing-masing penampilan. Seluruhnya ditampilkan oleh warga Desa Warungbanten yang dalam usia mereka yang sudah terlihat sepuh tapi masih sangat bersemangat.

Sebagai ungkapan rasa syuku dalam Festival Wewengkon dipamerkan sejumlah prestasi dan penghargaan. Selama kepemimpinan Ruhandi, dalam tiga tahun terakhir Desa

Warungbanten telah banyak meraih prestasi. Selama bulan Mei 2017, TBM Kuli Maca berhasil meraih penghargaan dalam waktu yang berdekatan, yakni; Penghargaan dari Bupati Lebak atas Dedikasinya sebagai pegiat Kampung Literasi di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, 2 Mei 2017; Penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pengurus Daerah Banten atas jasa serta dedikasinya dalam membangun masyarakat literasi di Provinsi Banten, 16 Mei 2017; dan

Penghargaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten sebagai Juara I Lomba Perpustakaan Desa/ Kelurahan tingkat Provinsi Banten, 17 Mei 2017; Perpusdes Kuli Maca berhasil meraih 5 besar (Juara Harapan II) mewakili Provinsi Banten dalam Lomba Perpustakaan Desa/ Kelurahan tahun 2017 yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional selama tiga hari di Jakarta, 11-13 September 2017 dan berhasil menyisihkan 71.000 perpustakaan Desa/ Kelurahan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Pada acara puncak Hari Aksara Internasional 2018 di Deli Serdang, Sumatera Utara, 8 September 2018, Ruhandi menerima penghargaan dari Muhadjir Effendi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai TBM Kreatif Rekreatif; Penghargaan Desa Prakarsa dan Inovasi Terbaik dari Kememdes PDTT, Kamis 29 November 2018; dan terkahir Penghargaan Satu Indonesia Awards 2018 untuk kategori Inovasi Desa melalui Pertanian Alami dari PT Astra Internasional.

Jaro Ruhandi, sapaan akrabnya. Memaparkan tujuan diselenggarakannya Festival Wewengkon yaitu untuk merefleksi kembali perjalanannya selama menjadi Kepala Desa.

Memulai langkahnya dengan membangun gerakan literasi hingga ke praktik pola pertanian alami dan melakukan pemetaan batas-batas desa bekerjasama dengan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) Bogor.

“Awal saya menjadi Kepala Desa, langkah yang saya tepuh adalah membangun gerakan literasi dengan pendampingan dari Penggiat Literasi Lebak, Bang DC Aryadi. Kemudian saya bertemu dengan Pak Firman Venayaksa dan diajak berkenalan dengan Menteri Desa di kantornya bersama Najwa Shihab. Dalam waktu yang bersamaan saya juga berkenalan dengan

Yayasan Bina Desa melalui Kang Aji yang kemudian melakukan pemetaan Batas-batas desa. Jadi Desa Warungbanten sudah punya Peta Desa,” kata Jaro Ruhandi.

Festival Wewengkon dihadiri dari DPMD Provinsi Banten,  ASDA 3, Dedi Indepur didampingi Firman Arif Hidayat, Kabid Pemdes DPMD Kab. Lebak dan Nur Yakman yang mewakili Diskerpus Kab. Lebak.

Dalam sambutannya Dedi memberikan apresiasinya kepada Pemerintahan Desa Warungbanten yang telah berhasil menjalankan program pembangunan yang sejalan dengan Visi dan Misi Kabupaten Lebak.

“Desa Warungbanten telah berhasil menjalankan program pembangunan dengan cara sangat demokratis dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat desa. Dimana pertanian alami digalakkan oleh warga, gerakan literasi masyarakatnya tumbuh dan berkembang dengan melibatkan jaringan kerjasama antar penggiat serta serta potensi ekonomi yang juga terangkat.

Hal ini sesuai dengan Visi Misi Pemerintahan Kabupaten Lebak yaitu Lebak Sehat, Lebak Cerdas dan Lebak Sejahtera,” ucapnya.

Selain itu, acara yang berlangsung cukup sederhana juga dihadiri oleh para penggiat Literasi Banten yakni Motor Literasi, Forum TBM Banten, Relawan Kedai Proses, Kelompok Mahasiswa dari Untirta, Banten Raya, STKIP Setia Budhi, dan IPB. Tokoh Nasional Seperti Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Firman Venayaksa, Ketua Forum TBM Nasional, John Pluto dari Yayasan Bina Desa, Boni dari Sawit Watch dan Aji Panjalu dari Jaringan Kerja pemetaan Partisipatif (JKPP) Bogor.

Disuguhi kemewahan kuliner khas Kaolotan Cibadak yang dihasilkan dari kebun pertanian alami, Abdon Nababan mengungkapkan kesannya dalam menghadiri Festival Wewengkon, “Salah satu prioritas Desa Warungbanten adalah pengembangan pertanian alami.

Sebuah metode yang telah dijalankan oleh para leluhur kita. Maka empat hal pokok yang harus dijaga oleh Jaro Ruhandi yaitu Tradisi Adat, Tanah Wilayah Adat, Pengetahuan Adat dan Sistem Demokrasi Adat yang berlangsung selama turun temurun, bukan sistem demokrasi liberal seperti sekarang ini,” kata Abdon.

Perhelatan Festival Wewengkon merupakan sebuah gambaran dimana masyarakat Desa Warungbanten berupaya menjaga tradisi secara turun temurun. Hal tersebut digambarkan dalam setiap unsur yang tersedia baik musyawarah, gotong royong, rangkaian tradisi adat dalam Kolenjer atau Kalender Adat, kesenian, kerajinan, pertanian alami, dan lain sebagainya.

Sebuah gambaran yang ingin mengungkap dimensi sosial dalam kerja kebersamaan. Seperti hidangan yang tersaji salah satunya Bubur Sair, yaitu bubur yang dibuat dari kelapa muda dicampur gula merah dan tepung beras dan disantap bersama-sama pada saat warga melakukangotong royong membersihkan lingkungan atau mengerjakan saluran air untuk konsumsi dan kebutuhan pertanian.

Jika kerjasama dengan JKPP menghasilkan peta batas wilayah desa, dengan Sawit Watch desa Warungbanten melakukan pemetaan potensi-potensi baik alam maupun kehidupan sosial yang bisa dikembangkan. Di Desa Warungbanten terdapat sebelas curug atau air terjun dan satu situ yang oleh Jaro Ruhandi rencananya akan dijadikan program pengembangan pariwista.

Dalam konteks pariwisata, selain keindahan alam, ada beberapa potensi yang juga akan dikembangkan dalam program pariwisata, seperti wisata pertanian alami, kuliner dan tradisi khas yang terdapat di Desa Warungbanten.

By.  (Budi Lengket)*