Foto 5.2_1

www.warungbanten.desa.id_Semangat menjaga kelestarian pangan lokal terus dilakukan oleh warga desa Warungbanten, yang terletak di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten.

Warungbanten merupakan ibukota kecamatan Cibeber kaya akan sumber daya pertanian, peternakan serta potensi pertambangan. Desa ini memiliki alam yang indah dan kawasan hutan adat seluas 8 ha, benama Dungus (Ki Bujangga) yang dijaga secara turun temurun oleh lembaga adat kaolotan Cibadak.

Warga yang bermukim di wilayah yang berbatasan dengan beberapa desa diantaranya desa Sukamulya dan mekarsari di Banten ini, sebagian besar bekerja sebagai petani yang bekerja di kebun, ladang dan sawah organik, yang tidak menggunakan pupuk kimia.

Ada juga sebagian warga yang bekerja sebagai pegawai, pedagang, dan buruh tambang. Semua warga di wilayah ini memegang aturan Nagara Agama (Sara) dan adat lokal (buhun) yang mengedepankan budaya gotong royong yang terus dilaksanakan setiap menggelar hajatan desa, seperti seren taun atau panen tahunan.

Selain sumber daya alam yang melimpah, desa ini juga dipimpin oleh seorang kepala desa yang inovatif bernama Jaro Ruhandi. Ia biasa dipanggil Jaro muda. Masih muda karena dia baru berusia 32 tahun namun mampu menanamkan nilai budaya lokal kepada warga, dan menggerakkan warga untuk melestarikan pangan lokal dan terus menjaga tradisi leluhur.

Ia mengajak warga desa untuk terus menanam di kebun dan ladang serta mengajak masyarakat melestarikan pangan lokal, menjaga lingkungan dan membiasakan mengkonsumsi hasil ladang dan kebun sendiri. Selain lebih sehat dan bergizi karena ditanam tanpa bahan kimia organik, tentu saja lebih murah dan tidak mencemari lingkungan.

Foto 5.1_1

Kepala desa menghimbau, setiap ada pertemuan desa atau acara warga yang digelar di wilayah tersebut, maka konsumsi yang disediakan adalah pangan lokal dari kebun warga.

Pangan lokal adalah pangan tradisional yang dihasilkan dari kebun atau ladang di desa sendiri terdiri dari berbagai macam makanan pokok atau tambahan serta minuman tambahan berbahan rempah.

Karena itu, suguhan khas di desa Warungbanten untuk kegiatan warga biasanya berupa dodol atau jenang dari beras, pisang, ubi, singkong, dan kopi hitam dengan gula aren. Betapa nikmat dan sehatnya pangan lokal yang diproduksi secara organik di desa ini.

“Kalau bisa, jangan ada bungkus air kemasan,” kata Kepala desa, Jaro Ruhandi kepada Tandan Sawit di desa Warungbanten, belum lama ini.

Menurutnya, air kemasan dan berbagai makanan olahan yang dikemas dalam plastik akan menghasilkan tumpukan sampah plastik. Jika kemasan plastik itu terus menumpuk maka akan menjadi timbunan sampah yang akan mencemari lingkungan.

Petuah bijakpun disampaikan kepala desa kepada generasi muda untuk tidak meninggalkan kampung halaman, karena masih banyak yang bisa dikerjakan di desa. Menurut dia, rezeki dapat dihasilkan di kampung desa sendiri sehingga tidak harus merantau ke kota.

“UU Desa bukan hanya mengamanatkan bagaimana mengelola dana desa, tetapi juga bagaimana para pemangku desa memiliki pengetahuan untuk mengelola desa dan memberdayakan warganya,” kata Jaro muda.

Karena itu beberapa tahun ini, ia berupaya keras agar warga di desanya “melek literasi” atau rajin membaca buku. Perpustakaan umum disediakan untuk warga dengan menyediakan segala macam buku bacaan. Hasilnya taman bacaan “Kuli Maca” yang diinisiasi bersama warga selalu ramai. Warga berdatangan di taman baca dan mereka membaca buku, berdiskusi dan tetap bersemangat untuk terus membaca. Prestasi yang menggembirakan, pada 2017, desa ini meraih Juara I Perpustakaan Desa Terbaik Tingkat Provinsi Banten.

“Penting adalah dengan memberikan kesadaran literasi untuk warga desa. Tanpa literasi, desa tidak akan maju,” kata Jaro muda.

Foto 5.5_1

Selain membaca, warga tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari hari. Untuk itu, kepala desa ini mengajak pemuda di tempat tersebut membuat peternakan kambing dan pertanian organik. Tentu saja, tujuannya warga bisa lebih mandiri dengan hasil pangan dari peternakan dan kebun sendiri dan tetap menjaga lingkungan dari bahan kimia organik yang merusak tanah dan tanaman.

Jika Anda ingin berkunjung ke desa Warungbanten, maka perjalanan menuju kampong ini dapat ditempuh melalui tiga jalur, yaitu melalui jalur Cipanas-Citorek melewati lahan bekas tambang Antam via Cibatok (Bogor-Banten), melalui Malingping-Rangkas Bitung (Bogor-Sukabumi-Banten), atau melalui jalur Sukabumi via Cikidang-Pelabuhan Ratu (Bogor-Sukabumi-Banten).

Untuk berkunjung ke desa ini, banyak pilihan perjalanan darat yang bisa ditempuh. Diantaranya menggunakan melalui Cipanas-Citorek bisa ditempuh sekitar 7 hingga 8 jam dengan jalur darat sekitar 126 KM. Rute ini lebih disingkat dibandingkan melalui rute yang lain, tetapi hampir sama melalui jalan darat Cikidang-Pelabuhan Ratu sepanjang 138 km. Melewati rute tersebut, mata akan melihat luasnya lahan bekas tambang Antam dengan jalur hutan dan melewati jalan yang penuh dengan batu batu besar.

Supaya lebih praktis, maka mobil yang digunakan untuk melewati rute ini dipilih dengan tipe ground clearance besar atau 4WD maka waktu tempuh akan lebih singkat, dan setelah melewati daerah Jasinga, suasana alam yang terlihat adalah perkebunan sawit milik PTPN VIII kebun Cikasungka, setelah melewati daerah Jasinga.

Alternatif lain bisa melalui rute Rangkas Bitung melalui jalan Gunung Kencana-Malingping, yang membutuhkan waktu sekita 9 sampai 10 jam karena melewati jalur darat sejauh 269 KM, akan Nampak perkebunan sawit PTPN VIII kebun Gunung Kencana dan Malingping jika melewati rute ini. Tetapi kalau melalui jalur Sukabumi, melewati jalur Klapanunggal-Cikidang maka yang terlihat adalah hamparan perkebunan sawit milik PTPN VIII Kebun Cikidang. Perkebunan sawit memang telah dikembangkan di Jawa Barat dan Banten sejak 17 tahun terakhir karena itu lahan sawit ramai terlihat menghampar sejauh perjalanan menuju desa Warungbaten.

Saat memasuki wilayah desa, maka suara khas alat pemisah emas yang sedang digerakkan buruh tambang terdengar bising. Ada sebagian warga yang menjadi gurandil atau penambang emas ilegal. Aktivitas tambang di wilayah ini menyisakan kegelisahan bagi warga karena sumber air yang mengalir di sungai yang berlokasi dekat permukiman mereka tidak lagi bersih.

Keterangan yang kami himpun, bahwa 90 persen sumber air di sungai telah tercemar limbah pengolahan emas, menyisakan zat beracun seperti merkuri dan sianida di sungai. Sejauh ini warga masih terus menjaga satu sungai yang belum tercemar, masih dikeramatkan, dan dijaga kelestariannya.

Meski beberapa sungai ada yang telah tercemar, warga tidak akan berhenti melestarikan pangan lokal, salah satunya menanam padi lokal. Hampir seluruh padi yang ditanam masih menggunakan bibit padi lokal, baik yang berumur panjang maupun pendek. Penanaman padi dilakukan secara serentak, sehingga hama yang mengganggu tanaman ini bisa disingkirkan. Padi yang telah dipanen disimpan dalam lumbung padi tradisional yang disebut leuit.

Warga desa ini memegang keyakinan bahwa padi yang telah dipanen tidak boleh dijual. Mereka percaya bahwa menjual padi akan mendatangkan “bala” atau keburukan. Kalaupun ada yang membutuhkan pangan yang berbeda selain padi, maka bisa dilakukan tukar menukar barang atau jual-beli dengan sistem barter antar warga petani dan peladang.

Selain padi, lahan kebun di desa ini juga banyak ditanam pohon Aren dan pohon Pisang. Aneka jenis pohon pisang dengan beragam varietas lokalnya tumbuh subur dan siap untuk dipetik setiap saat. Hasilnya, pohon Aren dapat dimanfaatkan untuk memproduksi gula Aren, sementara buah pisang telah diolah menjadi keripik pisang. Kedua produk itu dijual warga untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Kiat warga desa Warungbanten dalam melestarikan hasil kearifan lokal daerahnya patut diapresiasi. Pangan warga yang sehat berdampak pada warga desa yang menjaga kesehatan tubuh dan lingkungan. Melestarikan pangan lokal juga akan menciptakan ketahanan pangan bagi warga desa, karena mereka memiliki akses yang mudah untuk memperoleh pangan dari tanaman, ternak, ikan yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan warga.

Dengan terpenuhinya pangan yang bebas dari cemaran zat kimia, berarti ikut memenuhi kebutuhan pangan yang sehat dan bergizi untuk konsumsi sehari hari demi kehidupan warga yang aktif dan produktif.

Sumber : sawitwatch.or.id