Oleh: Budi Harsoni                                  (TBM Kedai Proses Rangkasbitung)

Di dinding akun fesbuk milik DC Aryadi, Ketua Dewan Perpustakaan Provinsi Banten, saya melihat unggahan foto sekardus buku bacaan dalam kondisi terbuka. Di bagian atasnya terlihat beberapa buku diantaranya berjudul PENGETAHUAN BATERAI MOBIL dan TEHNIK PEMELIHARAAN MOBIL. Ada kalimat yang mengecam dari DC, begitu ia akrab disapa, membaca tulisan itu saya maklum dengan tugas dan fungsi Dewan Perpustakaan. Namun saat tulisan ini dibuat, postingan tersebut rupanya telah hilang di lini masa dan sayangnya belum sempat saya capture. 
Peristiwa itu membuat saya tertarik untuk menelusuri lebih jauh apa yang membuat DC memposting foto tersebut. Setelah mendapat informasi dari sumber terpercaya, ternyata kardus buku itu diantarkan langsung oleh seseorang ke kantor desa Warungbanten, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dengan selembar Faktur. 

Buku berjumlah 31 judul yang terdiri antara 1 sampai 4 eksemplar per-judulnya itu dibandrol dengan total harga Rp 4.475.500, tentu tidak serta merta membuat Kepala Desa Warungbanten, Jaro Ruhandi begitu saja mau membayar. Pasalnya Perpustakaan Desa Kuli Maca yang telah meraih peringkat 5 besar Perpustakaan Desa Terbaik se-Indonesia dalam lomba perpustakaan yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional tahun 2017, oleh para pegiat literasi di desa tersebut dianggap buku-buku yang ditawarkan itu tidak sesuai dengan bahan bacaan yang dibutuhkan warga. Meskipun sebelumnya ada rumors yang mengatakan jika buku-buku tersebut harus dibeli oleh perpustakaan desa yang konon katanya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait. 

“Bukannya kami tidak mau membeli buku-buku itu, namun dari buku-buku yang ditawarkan rasanya tidak sesuai dengan kebutuhan warga. Sementara warga desa kami sebagian besar petani yang hidup di bukit-bukit dan lereng pegunungan, lantas bagaimana mereka dapat mengaplikasikan atau mempraktikkan buku bacaan tentang otomotif, sedang buku tentang pertanian atau peternakan yang sesungguhnya mereka perlukan tidak ada?” Begitulah keterangan yang disampaikan Jaro Ruhandi kepada saya melalui whatapps dan kemudian kamipun berjanji untuk segera bertemu. 

Sementara saya menyarankan kepadanya agar dibuat semacam quisioner dengan daftar pertanyaan ringan, semisal “Buku apa yang menarik untuk dibaca saat ini?” Hal itu untuk mengetahui kebutuhan bahan bacaan yang sesuai dengan masyarakat setempat dengan menyusun dua kategori. Pertama, kategori tingkatan usia; Anak-anak, Remaja dan Dewasa (termasuk di dalamnya kaum ibu). Dan kedua, kategori profesi; Guru (Sekolah/ Surau), Petani, Buruh, dan Pedagang. Dari hasil random sampling yang dikumpulkan sekiranya dapat diketahui bahan bacaan apa yang dibutuhkan warga, sehingga pengadaan buku untuk perpustakaan desa dapat bermanfaat dan tepat sasaran. 

Lebak dengan 340 desanya, merupakan pasar penjualan buku yang cukup menggiurkan bagi distributor buku. Saya mendapat keterangan dari seorang teman yang bekerja di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lebak tentang alokasi anggaran dengan nomenkaltur Belanja Bahan Bacaan bagi Perpustakaan Desa dari Anggaran Dana Desa (ADD) sebesar 5 juta rupiah. Sudah bisa dibayangkan berapa keuntungan yang bisa diraih dari penjualan buku bacaan di desa-desa, bukan? 

Dalam buku terbitan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berjudul “Semua Bisa Beraksi – Panduan Memberantas Korupsi dengan Mudah dan Menyenangkan” disebutkan, “Tak dipungkiri, banyak sistem di Indonesia yang justru membuka celah terjadinya tindak pidana korupsi. Misalnya, prosedur pelayanan publik yang rumit sehingga memicu terjadinya penyuapan. Contoh lainnya adalah prosedur perijinan, pengadaan barang dan jasa, dan sebagainya.” 

Saat ini, Kabupaten Lebak berpenduduk 1,2 juta jiwa dengan luas 304.472 hektare, 340 desa dan lima kelurahan yang tersebar di 28 kecamatan. Namun, hingga saat ini Kabupaten Lebak masih termasuk dalam kategori daerah tertinggal di Provinsi Banten. Penyebab daerah tertinggal tersebut tidak saja akibat dari buruknya infrastuktur di pelosok-pelosok desa namun juga upaya pemberdayaan masyarakat desa melalui pengembangan minat baca belumlah dilakukan secara maksimal. 

Hal ini terbukti ketika saya menjadi salah satu narasumber menyampaikan materi “Read Aloud” – sebuah metode pembelajaran membaca bagi anak usia dini dengan cara membacakan nyaring yang digagas Litara Foundation – dalam Seminar Literasi yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Setia Budhi bertempat di SMA Negeri 1 Panggarangan, Kabupaten Lebak pada Sabtu, 4 Nopember 2017 lalu, saya menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Salah seorang peserta yang berprofesi sebagai pengajar di salah satu SMA di wilayah tersebut bertanya, bagaimana cara membuat anak didik agar terbiasa membaca? Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, saya balik bertanya, adakah dari seluruh peserta di dalam ruangan ini yang mentradisikan diri membaca buku selama minimal satu jam setiap harinya? Atau satu jam secara akumulatif dalam satu hari? Jawabannya tidak satupun perserta yang mengangkat tangan, mereka hanya saling memandang satu sama lain, dalam arti tidak ada seorang peserta pun di ruangan itu yang memiliki tradisi membaca buku. Ngenes. 

Dalam perjumpaan selanjutnya ketika saya bersama teman-teman pegiat TBM Kedai Proses Rangkasbitung sengaja menyempatkan diri mampir ke desa Warungbanten seusai seminar hari itu. Jaro Ruhandi yang juga telah mendirikan TBM Kuli Maca di lingkungan komplek Rumah Adat Kaolotan Cibadak, tempat berkumpulnya para aktivis lingkungan dan pegiat literasi. Didirikan sejak 4 Juli 2016 dan diresmikan pada 24 Desember 2016 tahun lalu. Kala itu dalam sambutannya, Jaro Ruhandi mengatakan, “Saya yakin dan optimis dengan berdirinya TBM Kuli Maca dapat membawa perubahan yang positif di Desa Warungbanten tanpa merubah kearifan lokal yang telah menjadi tradisi warga sejak turun temurun.”  TBM Kuli Maca sejak perintisan dan pendiriannya selalu didampingi oleh para relawan TBM Kedai Proses yang secara kebetulan lebih dahulu berkiprah di dunia para pegiat literasi, dalam perjalanannya telah meraih penghargaan dari berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta; Dinas Perpustakaan Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Lebak dan IKAPI. 

Desa Warungbanten yang di dalamnya terdapat sebuah kampung Adat Keolotan Cibadak sangat berpegang teguh pada tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan. Keberadaan TBM Kuli Maca yang pada mulanya oleh warga dianggap sesuatu yang asing mendapatkan api semangat melalui ajaran Para Kasepuhan Adat yang berbunyi, “Neangan luang ti papada urang, neangan luang tina daluang, neangan luang tina kalangkang, neangan luang tina haleuang.” Jika diartikan secara bebas berbunyi, mencari ilmu dari sesama, mencari ilmu dari membaca, mencari ilmu dari masa lalu dan pandangan masa depan, dan mencari ilmu dari seni keindahan. 

Melalui TBM Kuli Maca dan Perpusdes Kuli Maca, berbagai upaya dilakukan Jaro Ruhandi untuk menciptakan kondisi masyarakat yang literat dengan membuat pojok baca di setiap RT/RW dan di setiap pos ronda demi suasana lingkungan belajar yang nyaman. Hal tersebut sejalan dengan program Gerakan Literasi Masyarakat yang digelontorkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Pun dalam membangun perekonomian masyarakat melalui BUMDes sebagai lokomotif perekonomian desa, juga berbagai usaha warga seperti pembuatan gula aren hasil produksi rumahtangga, kerajinan anyaman, usaha ternak kambing etawa yang di atas kandangnya terdapat rak buku tempat anak-anak bermain dan membaca, dan usaha perekonomian lainnya adalah apa yang selama ini ingin dibangun Jaro Ruhandi agar masyarakat dapat mandiri secara ekonomi setelah mendapat kesadaran literasi sehingga tidak melulu bergantung pada bantuan program dari pemerintah. 

Meski begitu besar dana yang mengucur ke desa, sebagaimana kebijakan Presiden Jokowi yang menjadikan desa sebagai ujung tombak pembangunan. Dana Desa dari Pemerintah Pusat maupun Anggaran Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten Lebak, belum lagi Bantuan Dana Desa dari Provinsi Banten, dikatakan olehnya tidak akan menjadi apa-apa jika hanya untuk membangun fisik semata. Kepala desa yang akrab disapa Kang Jaro ini memaparkan pandangannya dalam upaya membangun desa, “Jalan-jalan yang dibangun lambat laun akan dikikis cuaca dan rusak dimakan waktu. Namun jika kita membangun mental masyarakat dengan menyediakan bahan bacaan yang sesuai kebutuhan warga dengan tujuan agar mereka membiasakan diri membaca, membuka jendela dunia dan belajar banyak dari membaca, maka bangunan itu akan berdiri tegak selamanya. Saya tidak mau hanya sekedar membangun jalan dan fasilitas lainnya untuk warga, karena hal itu bagi saya hanya sementara. Yang saya harapkan adalah warga mampu membangun jiwa raganya dengan banyak membaca buku.” Kata-katanya adalah tekad yang tertanam. 

Mungkin inilah salah satu alasan ketika pada Selasa, 17 Oktober 2017 lalu Desa Warungbanten telah kedatangan tamu istimewa, Oktohari Dalanggo, SE, Ketua DPRD Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo beserta rombongannya dalam kunjungan Studi Banding tentang Pengelolaan Dana Desa. Kenapa saya katakan istimewa, karena jajaran DPRD Kabupaten Lebak sendiri secara resmi tidak melakukan hal itu ke desa Warungbanten. Kemudian menyusul baru-baru ini tim TV Edukasi Kemendikbud secara ekslusif melakukan liputan khusus selama beberapa hari di desa Warungbanten. Inilah integritas seorang Jaro Ruhandi sebagai pemimpin desa yang diam-diam menyita perhatian banyak kalangan, bagai oase di tengah padang gersang yang sepi akan sosok panutan. 

Masih di buku KPK yang sama tertulis, “Integritas adalah salah satu pilar penting sebagai pembentuk karakter antikorupsi. Secara harafiah, integritas bisa diartikan sebagai bersatunya antara ucapan dan perbuatan. Jika ucapan mengatakan antikorupsi, maka perbuatan pun demikian. Dalam bahasa sehari-hari di masyarakat, integritas bisa pula diartikan sebagai kejujuran dan ketidak munafikan. Dalam sebuah acara bincang-bincang bersama siswa sekolah yang dihelat Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten, Jaro Ruhandi ditodong sebuah pertanyaan oleh seorang siswa, “Bekal keberanian apa yang anda miliki sebagai seorang pemimpin?” dijawab dengan dua kata oleh Kang Jaro, “Berani miskin.” 

Ya, saya menyaksikan betapa Jaro Ruhandi adalah sosok dengan kehidupan yang sangat sederhana. Ayah dua orang putri yang cantik-cantik, Rindu dan Agniya ini hidup bersama istrinya yang seorang guru PAUD dalam sebuah rumah yang dapat dikatakan sangatlah tidak memadai untuk seorang kepala desa. Di depan pintu depan rumahnya adalah amben atau bale-bale tempat para peronda malam. Sedangkan begitu masuk kedalam, jangan bayangkan kita akan duduk nyaman di ruang tamu, melainkan dapur dengan ukuran sekitar tiga kali tiga meter lebih dan terdapat tangga di pojokan yang membawa kita ke ruang atas yang disekat menjadi dua, satu ruang tivi dan lainnya kamar tidur yang luas seluruhnya lebih kurang 4 x 6 meter. (ketika saya masuk ke rumahnya tidak sempat mengukur dengan pasti).

Relawan TBM Kedai Proses dan Komunitas Motor Literasi menjadi kelompok yang dipercaya untuk membagikan buku-buku KPK ke seluruh TBM-TBM yang ada di Provinsi Banten dan salah satunya adalah TBM Kuli Maca. Saya jadi curiga apakah Jaro Ruhandi menghayati buku KPK berjudul Orange Juice for Integrity – Belajar Integritas kepada Tokoh Bangsa yang di dalamnya ada cerita tentang Haji Agus Salim. 

Di halaman 13 buku tersebut tertulis, “Suatu ketika, di sebuah tempat di dataran Eropa, berkumpullah para diplomat dari pelbagai negara. Di antara mereka terselip seorang pria berjanggut putih. Keberadaannya sangat mudah dibedakan dari yang lain. Selain lebih pendek, dandanannya pun sungguh kontras. Bila para diplomat lain berpenampilan necis, ia justru mengenakan jas berhiaskan beberapa jahitan di sana-sini. 

Kesahajaan yang oleh Schermerhorn disebut sebagai kemelaratan itu oleh Mohammad Roem disebut sebagai manifestasi nyata dari prinsip Leiden is Lijden “memimpin adalah menderita” yang pertama kali dipopulerkan oleh Mr. Kasman Singodimejo. “Saya teringat perkataan Kasman, Leiden is Lijden, memimpin adalah menderita. Penderitaan tidak hanya berupa penjara, tetapi juga kepahitan hidup. Penderitaannya ditujukan dalam hidup sederhana yang kadang-kadang mendekati serbakekurangan dan kemiskinan,” tutur Mohammad Roem dalam tulisannya, Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita, pada 1977. 

Di jaman now yang serba hedon ternyata masih ada sosok pemimpin yang integritasnya tidak hanya dalam perkataan, tapi nyata dalam tindakan. Menjadi kepala desa dalam pandangan banyak orang adalah kesempatan untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Bertambahnya harta kekayaan yang diikuti dengan bertambahnya istri adalah hal yang banyak terjadi dan dianggap biasa dalam hidup seorang kepala desa. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Jaro Ruhandi, dengan dana yang berlimpah di desa ia bangun jalan, mendahuluan bangunan BUMDes dan mempercantik rumah-rumah Adat serta sarana warga lainnya. 

Bila menelisik kiprah Jaro Ruhandi dalam memimpin desa rasanya kita patut berbangga karena masih ada sosok yang layak untuk dijadikan panutan. Meski terdengar sedikit naif, saya angkat topi buat Kang Jaro dengan tekadnya, “Menjadi pemimpin harus berani miskin.”