Literasi Digital : Transformasi Desa Mengejar Ketertinggalan “Catatan Dari TBM Kuli Maca Desa Warungbanten”

Oleh: Budi Harsoni
Literasi adalah pengetahuan atau keterampilan seseorang dalam memahami, menganalisis, mengevaluasi, mengelola, menggunakan dan memanfaatkan berbagai informasi serta bagaimana mengkomunikasikan ulang informasi tersebut kepada seseorang, kelompok, maupun masyarakat luas. Literasi adalah pencerahan akal budi, sebuah kesadaran membangun kebaikan dan kemaslahatan dalam ruang hidup kebersamaan. 
Sedangkan Digital berasal dari kata Digitus, dalam bahasa Yunani berarti jari jemari––berjumlah 10 jari. Nilai sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix (akar), yaitu 1 dan 0, karenanya digital merupakan penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1. Semua sistem komputer menggunakan sistem digital sebagai basis datanya. Sementara menurut KBBI, Digital berhubungan dengan angka-angka untuk sistem perhitungan tertentu; berhubungan dengan penomoran. 

Di era digital, jari-jari menjadi aktor utama. Melalui grup-grup dari berbagai aplikasi media sosial yang banyak digunakan, hanya dengan sepasang jempol, ribuan massa turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini membuktikan dunia daring bukan sekedar gaya hidup. Ruang maya ini terbukti sebagai penggerak manusia di ruang nyata. Media daring mampu menggugah kesadaran banyak orang untuk melakukan sesuatu yang konkrit. Karena informasi dalam berbagai bentuknya, dengan cepat memasuki ruang-ruang pribadi tanpa kulonuwon atau sampurasun tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. 

Indonesia adalah ibu kota media sosial di dunia, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 132,7 juta orang dari 256,2 juta orang populasi Indonesia. Ini berarti pengguna internet di Indonesia telah mencapai 51.8% dari jumlah penduduk Indonesia seluruhnya (APJII, 2016). Karena pengguna akun media sosial yang aktif dan massif, menjadikannya rentan terhadap ekses negatif dari lemahnya literasi digital. Sehingga tidak jarang media daring yang membawa kabar bohong atau fitnah, langsung dicerna tanpa dipilah dan dipilih benar tidaknya informasi yang diterima. Hingga dalam kasus tertentu, dunia digital dengan media sosialnya membawa orang masuk ke dalam penjara karena tersangkut pelanggaran UU ITE yang diterapkan oleh Pemerintah demi menjaga keutuhan bangsa. 

Era digital yang melahirkan revolusi komunikasi serba cepat, waktu dan ruang seolah dapat dicapai semudah menekan tombol dengan jari jemari. Naik ojek tidak harus pergi ke pangkalan ojek atau menunggu di pinggir jalan. Tinggal sentuh layar aplikasi lalu datang yang dipesan tepat di depan rumah. Transformasi digital begitu masif, komunikasi tidak lagi menjadi masalah pelik dan rumit bagi kehidupan. Terdapat sekitar 80% pengguna internet di Indonesia adalah generasi muda kategori digital native? Yang dimaksud dengan digital native di sini adalah mereka yang lahir pada tahun 1980 dan sesudahnya. Untuk itu kita harus ‘melek digital’, memiliki kecakapan berliterasi di dunia maya agar terhindar dari bahaya laten berita bohong atau hoax yang menyesatkan dan menjerumuskan. Jika dahulu pernah dikenal istilah “Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota,” belakangan berganti dengan istilah “Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu jari” sebab jari-jari penggerak dunia maya melibas korbannya tanpa pandang usia, tak melihat laki-laki ataupun perempuan. 

Lewat bukunya berjudul Digital Literacy (1997), Paul Gilster disebut-sebut orang pertama yang membidani istilah Literasi Digital. Ia mendefinisikannya secara sederhana sebagai ‘literacy in the digital age’ mengartikannya sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang luas yang diakses melalui piranti komputer. Beberapa ahli masih memperdebatkan pengertian ini. Terlepas dari perdebatan tersebut arti penting dari literasi digital adalah “memahami dan menggunakan informasi.” Oleh karenanya generasi milenial dihimbau agar dapat memahami dan menggunakan informasi di dunia daring dengan melakukan saring sebelum sharing. Karena itu, literasi digital berkait berkelindan dengan kecerdasan mental. Ia menuntut keterampilan emosional, moral, dan akal dalam memahami dan mengolah data. Selain kreatifitas, kesadaran dan tanggung jawab merupakan elemen yang harus didahului, sikap dan karakter menjadi garda terdepan sebelum berselancar di dunia maya. 

Sebagaimana dirumuskan dalam tesis Douglas A.J Belshaw berjudul “What Is Digital Literacy?” (2011). Terdapat Delapan Elemen Esensial Literasi Digital untuk memahami dan menguasai dunia digital saat ini, yakni: 1) Kultural: Pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital; 2) Kognitif: Daya pikir dalam menilai konten; 3) Konstruktif: Mereka-cipta sesuatu yang asli dan aktual; 4) Komunikatif: Memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital; 5) Kepercayaan diri yang bertanggungjawab (convident); 6) Kreatif: Melakukan hal baru dengan cara baru; 7) Kritis dalam menyikapi konten; dan 8) Bertanggungjawab secara sosial (civic responsibility). 

TBM Kuli Maca dan Website Desa Warungbanten
Dibangunnya website Desa Warungbanten, salah satu desa di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dengan lamannya www.warungbanten.desa.id menjadi pelopor literasi digital di desa tersebut dengan TBM Kuli Maca sebagai pusat kegiatan dan segala aktifitas literasi dari 6 Literasi Dasar yang diterapkan, yakni: 1) Literasi Baca Tulis; 2) Literasi Numerasi; 3) Literasi Finansial; 4) Literasi Sains;  5) Literasi Digital; dan 6) Literasi Budaya dan Kewarganegaraan. Literasi budaya dan kewarganegaraan dalam konteks kultural yang menjadi salah satu dari delapan elemen esensial literasi digital menjadikan adat tradisi budaya di Desa Warungbanten mendapatkan ruang ekspresinya di dunia daring. Mengingat desa tersebut merupakan Desa Adat dengan tradisi budaya yang masih kuat dijalani dan dilestarikan oleh seluruh warga masyarakatnya.

Melalui website Desa Warungbanten yang diluncurkan pada 5 April 2016 lalu oleh Jaro Ruhandi, Kepala Desa yang baru berusia 33 tahun yang juga termasuk digital native, literasi digital menjadi sarana untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat terkait penyelenggaraan pembangunan desa, baik soal transparansi pengelolaan Dana Desa maupun informasi seputar potensi ekonomi dan tradisi budaya bersama kearifan lokal yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat. 

Pada 22 Oktober 2017 lalu, Ketua DPRD Boalemo, Provinsi Gorontalo Oktohari Dalanggo, SE beserta jajarannya berkunjung ke Desa Warungbanten untuk melakukan Studi Banding tentang pengelolaan Dana Desa (DD). Acara penyambutan yang sederhana di area pasar desa dengan menyuguhkan tampilan kesenian tradisional tarian Rengkong dan Angklung Buhun. “Ini merupakan program kami untuk melakukan Studi Banding ke desa-desa terbaik dalam pengelolaan Dana Desa. Setelah kami mencari informasi melalui media sosial (medsos), lalu kami mendiskusikan, maka desa Warungbanten menjadi pilihan untuk kami jadikan tempat Studi Banding,” kata Oktohari Dalanggo, SE dalam sambutannya kala itu. 

Dengan menerapkan e-Government di pemerintahan Desa Warungbanten, semua dapat diakses baik pelayanan maupun transparansi anggara dalam pembangunan desa. Ini adalah salah satu bukti kiprah anak desa membangun Indonesia dari pinggiran sebagaimana salah satu program Nawacita Presiden Joko Widodo.

Dengan literasi digital, kemampuan mengolah dan memberdayakan potensi desa, sejarah, kearifan kultural desa, ekonomi, ekologi dan sosial terus dimaksimalkan oleh para relawan TBM Kuli Maca. Upacara adat Serentaun yang merupakan tradisi tahunan warga “Adat Kaolotan Cibadak” dalam merayakan rasa sukur atas hasil panen mendapatkan ruang sosialisasi dan publikasi di media daring. Menjadikan peristiwa budaya tersebut sebagai momen untuk berkumpulnya para pegiat literasi. Tidak hanya pegiat TBM, para aktivis desa juga memanfaatkan momen upacara adat tersebut sebagai bagian dari konsolidasi bagi jaringan aktivis penguatan desa di seluruh Indonesia, sebut saja Yayasan Bina Desa, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif, Sawit Watch, dan lain sebagainya. Kekuatan literasi terdapat pada daya fleksibilitasnya dalam merespon keadaan dan membangun jaringan antar relawan dan kearifan kultural desa mendapatkan ruang disaat kemampuan literasi digital dikembangkan di TBM Kuli Maca. 

Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Ditjen PAUD Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memprioritaskan wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal dan Terluar) dalam program pengembangan pendidikan kesetaraan. Kabupaten Lebak yang masuk dalam kategori Daerah Teringgal tidak berarti warga masyarakatnya tertinggal dalam kecakapan literasi di era digital. Desa Warungbanten menjadi desa percontohan baik dalam inovasi maupun pengelolaan pemerintah desa melalui kecakapan literasi digital. 

TBM Kuli Maca yang berada di komplek Rumah Adat Kaolotan Cibadak setiap minggu menggelar aksi Gerakan Minggu Membaca dengan beragam kegiatan kreatif yang mengajak kalangan dari anak-anak, remaja hingga dewasa untuk bersama-sama melakukan kegiatan membaca. Sementara para relawannya merekam aksi tersebut dalam bentuk vidio yang kemudian dibagikan ke media sosial Youtube. Ini merupakan sebuah kecakapan literasi melalui salah satu dampak perkembangan teknologi dalam digital media, yaitu meningkatkan konten multimodal yang biasanya ditemui dalam teks. Menggabungkan unsur visual, teks dan audio sekaligus, konten yang dijumpai dalam media digital mengombinasikan beberapa modalitas sekaligus. Inilah yang disebut dengan multimodality; as a result, a range of new literacies are needed to cope with the proliferation of images, graphics, vidoe, animation and sound in digital texts (Jones & Hafner, 2012:50). 

Banyak hal yang sangat menguntungkan di era digital sekarang ini. Lewat media sosial, sebagai contoh, kerajinan tangan khas etnik dari para pengrajin di Warungbanten mendapatkan pangsa pasarnya di jaringan para pegiat pariwisata. Kerajinan tangan tersebut menjadi cindera mata sebagai kenang-kenangan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata di Kabupaten Lebak. Dalam perkembangannya, TBM Kuli Maca tidak hanya menyebar virus literasi berupa membaca, menulis dan mengeruk informasi dengan hanya berkonsentrasi pada lembaran kertas. Dengan 4 kecerdasan yang harus dimiliki di era milenial, yaitu; 1) Kritis; 2) Kreatif; 3) Komunikatif; dan 4) Kolaboratif, media daring menjadi andalan bagi para relawannya untuk mempromosikan Desa Warungbanten sebagai desa yang disiapkan menjadi Desa Wisata Budaya. Sebuah desa yang termasuk dalam kategori Daerah Tertinggal, dengan kekuatan literasi digital berupaya melakukan transformasi kearah lebih literat dan pada akhirnya taraf hidup masayarakat desa Warungbanten menjadi semakin sejahtera. Amin. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.