Pertunjukan seni rengkong, seni gegendek dan angklung dalam acara dialog seni budaya. Musieum Multatuli Rangkasbitung (31/10/2018)

warungbanten.desa.id_ Keberadaan kesenian tradisional dari desa warungbaten semakin terdengar kepada masyarakat luar sampai kepada pemerintah daerah,  hal tersebut terbukti ketika mendapat undangan untuk pentas dalam acara Dialog Seni dan Budaya Berbasis Kearipan Lokal oleh UPT Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 31 Oktober 2018, bertempat di Aula Museum Multatuli Rangkasbitung. 

Ada tiga  jenis kesenian dari desa Warungbanten  yang ditampilkan, yaitu rengkong,  gegendek,  dan angklung. 

Kesenian rengkong biasanya digunakan saat panen tiba sebagai alat mengangkut padi dari sawah ke lumbung padi. 

Kesenian Gegendek biasanya dilakukan pada sore hari saat buah padi mulai menguning mendekati panen. Selain itu,  gegendek juga biasa dilakuka saat ngangkat pada acara seren taun. Sedangkan angklung buhun dogdog lojor sebagai pengiring rengkong dan gegendek.

“Saya merasa senang  ikut memeriahkan acara tersebut, selain dapat melestarikan juga dapat membuktikan bahwa seni tradisional di desa kami masih ada dan lestari”.  ucap Sarda, salah satu personil angklung. 

Selain tampilkan kesenian, kami juga mengikuti Dialog Seni dan Budaya Berbasis Kearipan Lokal oleh UPT Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten yang membahas tentang leuit/ lumbung padi sebagai lamabang ketahanan pangan dan gotong royong.

Bersyukur karena salah satu narasumbernya berasal dari Desa Warungbanten yaitu pak Wikanta,  beliau adalah juru basa dari Lembaga Adat Kaolotan Cibadak.

“Suatu penghormatan bagi kami bisa diundang dalam acara ini,  semoga kegiatan ini bisa berkelanjutan, karena selain dapat melestarikan kesenian tradisioanal, juga akan semakin memperkenalkan potensi seni kepada masyarakat luar sehingga bisa menjadi potensi wisata budaya”.  Ucap Jaro Ruhandi