Jaro Ruhandi tengah memberikan penjelasan mengenai pola pertanian alami di balai Desa Banjarsari, Kec. Warunggunung, Kab. Lebak-Banten, Kamis (24/1/2019).

LEBAK, warungbanten.desa.id – Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Mandiri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menyelenggarakan pelatihan Pola Pertanian Alami dengan tema “Mewujudkan Pertanian Organik sebagai Solusi Hasil Panen Berkualitas melalui Inovasi Literasi” bersama puluhan warga desa dengan melakukan praktik membuat pupuk organik atau pupuk alami di Balai Desa Banjarsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak – Banten.

Kegiatan yang diselenggarakan dengan sederhana tersebut dibuka oleh Kepala Desa Banjarsari Iwa Sugriwa menghadirkan Kepala Desa Warungbanten Jaro Ruhandi sebagai pemateri yang menyampaikan pembahasan pentingnya mempraktikkan pola pertanian alami. Menurutnya, pertanian alami seperti menjaga hubungan baik manusia dengan Tuhan, antar sesama manusia dan sesama alam.

“Pola pertanian alami seperti kita menjaga nilai-nilai kebaikan antar manusia, alam dan Allah SWT. Sebagai manusia yang bergantung pada alam, petani harus menjaga kelestariannya. Dengan pertanian alami, sesama petani akan saling menjalin silaturahmi dan bekerja sama menjaga alam ini,” ujar Jaro Ruhandi, Kamis (24/1/2019).

Dikatakannya, sistem pertanian alami sangat penting untuk menjaga kelestarian alam sekitar kita. Karena dengan menggunakan pupuk organik atau pupuk alami, tanah akan terjaga kesuburannya. Berbeda apabila dengan menggunakan pupuk kimia, selain kesuburan akan terganggu, tanah akan menjadi tergantung dengan pupuk kimia. Pola pertanian dengan menggunakan pupuk alami, tanah akan tetap terjaga kesuburannya dan tidak menjadi addictive atau kecanduan pupuk kimia. Karena jika terbiasa menggunakan pupuk alami lama kelamaan tanah sudah tidak perlu lagi diberi pupuk.

Sedangkan DC Aryadi, Pegiat Literasi Lebak yang juga pelaku pertanian alami menyampaikan pendapatnya bahwa pertanian alami juga berhubungan dengan mental dan karakter warga desa yang selama ini menggarap sawahnya terbiasa menggunakan pupuk kimia.

“Bagi petani yang terbiasa menggunakan pupuk kimia, tidak mudah berpindah ke pola pertanian alami. Sebab ada keraguan apakah nanti hasil panennya akan gagal jika menggunakan pupuk alami. Maka, sistem dengan pola pertanian alami juga harus benar-benar dilatih tidak hanya praktik membuat nutrisi, mikroba, dan sebagainya. Tetapi juga tumbuhnya kesadaran dan keyakinan baru terhadap pertanian alami, ada semacam ideologi disana,” kata pria yang akrab disapa Bang DC.

Selain Jaro Ruhandi dan DC Aryadi, panitia juga mengundang Dinas Kearsipan dan Perpustakaan sebagai stakeholder dari jaringan literasi. Menurut Ketua Panitia hal tersebut dimaksudkan agar warga desa mendapatkan informasi terkait bahan bacaan yang berhubungan dengan pola pertanian alami.

“Dalam kegiatan ini selain mengundang teman-teman pegiat literasi di Lebak, kami juga mengundang Dinas Kearsipan dan Perpsutakaan Lebak, tujuannya agar dapat terjalin sinergi literasi terkait kebutuhan bahan bacaan bagi warga desa Banjarsari,” kata Penanggungjawab Kegiatan Rian Pratama.

Mewakili Kepala Dinas Kearsipan dan Perpsutakaan Lebak, kegiatan dihadiri oleh Kasi Pengembangan Minat Baca dengan tim mobil Pusling, ada juga Aep Bastus Literasi, seorang pedagang bastus yang di gerobaknya selalu membawa buku bacaan bagi anak-anak, dan para pegiat literasi TBM Kedai Proses.

Dalam kegiatan tersebut, warga terlihat antusias mengikuti diskusi dan pemaparan tentang pertanian alami, terlebih ketika pratik membuat pupuk yang terdiri dari bahan-bahan alami seperti rebung, bawang putih, jantung pisang dan gula merah. Praktik tersebut dilakukan oleh Muryadi Udok asisten Jaro Ruhandi. (Sumber : pelitabanten.com)